Jakarta, 3 Bulan Kemudian
Setelah menghabiskan waktu selama tiga
bulan di Amerika, Alvi akhirnya kembali ke Indonesia. Dia kembali tidak
sendiri, melaikan bersama dengan Niken. Tidak hanya itu, William bersama
keluarga kecilnya juga akan ikut ke Indonesia untuk membantu Alvi dan Niken
menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang diakibatkan oleh keluarga
Rusdiantoro dan Turano. Tapi, Will baru bisa berangkat ke Indonesia tiga hari
setelah kepergian Alvi dan Niken karena masih harus menyelesaikan beberapa urusan
di rumah sakitnya.
Kedatangan Alvi dan Niken di sambut
hangat oleh keluarga Keysnandra. Tampak Oma Mia, Papa Dana dan Mama Ratih yang
menyambut kedatangan mereka dengan senyum bahagia. Mama Ratih bahkan tak
henti-hentinya memberikan pelukan pada putrinya itu. Ia lega, melihat keadaan
Niken yang sudah terlihat baik-baik saja. Mereka pun lekas disambut dengan
banyak hidangan lezat di meja makan setelah terlebih dahulu Alvi dan Niken
diberikan kesempatan untuk meletakkan barang bawaan mereka di kamar mereka
masing-masing.
"Jadi, gimana dengan hubungan
kalian....?" tanya Dana kepada kedua putra dan putrinya memulai
percakapan.
"Baik Pa....," jawab Alvi
yang diperkuat pula dengan anggukan kepalanya oleh Niken sebagai persetujuan
jawaban Alvi.
"Jadi masalah perceraian
itu....," Oma Mia mulai membahas akar permasalahan yang semula menjadi
alasan kenapa Alvi pada akhirnya memutuskan untuk terbang ke Amerika menjemput
Niken.
"Tidak akan pernah ada perceraian
Oma. Aku dan Niken akan hidup bersama selamanya...," ucap Alvi sembari
menggenggam tangan Niken dengan lembut. Ia tersenyum lembut kepada sang istri.
"Hmm....Alvi tidak masalah?
Keadaan Niken mungkin...," Mama Ratih mulai sedikit mengungkapkan
kecemasannya. Walau bagaimanapun ia sangat menyayangi Alvi layaknya anak
kandungnya sendiri. Meskipun ia ingin lelaki itu tetap bersama dengan putrinya,
tapi ia juga tidak boleh bersikap egois. Karenanya, ia perlu menanyakan hal itu
kepada menantunya.
"Takdir tidak ada yang tahu Ma.
Memiliki Niken sebagai istri saja Alvi sangat bersyukur. Ia memberi Alvi
segalanya, bahkan sebuah keluarga yang hangat seperti Papa, Mama dan Oma.
Masalah anak, itu hanyalah bonus dari Tuhan untuk kami. Kalau kami di beri
kepercayaan itu kami akan terima, tapi jika sebaliknya kami juga akan ikhlas
menerimanya terlepas dari adanya penyakit itu atau tidak dalam diri Niken.
Karenanya, kami memutuskan untuk menjalaninya saja," jelas Alvi yang di
respon dengan anggukan kepala oleh Mama, Papa dan Oma-nya.
"Oma, Papa dan Mama tidak
keberatan bukan dengan keputusan kami berdua?" tanya Niken kemudian. Ia
meremas tangannya menyembunyikan kecemasannya.
"Kami tidak masalah Nak, apapun
keputusan kalian berdua kami akan hargai dan mendukung kalian...," Ucap
Ratih sembari menggenggam tanggan putrinya dengan lembut.
"Iya, mama-mu benar.
Lagipula Oma juga belum siap di panggil Oma Buyut...," ujar sang Oma.
"Ingat umur omah, kalau nggak di
panggil omah buyut mau di panggil apa?" Ledek Alvi.
"Oma masih muda ya Vi, gak beda
jauh tuh sama mamamu...," Ucap sang omah yang tentu saja dibalas tawa oleh
semua anggota keluarga di rumah itu.
*****
"Kamu yakin, akan menemui
Irene?" Tanya Niken ketika melihat Alvi bersiap hendak pergi. Alvi
menganggukkan kepala sebagai pengganti jawaban ia dari mulutnya.
"Aku cuman pergi selesain masalah
yang ada, nggak usah cemburu gitu..," ledek Alvi sembari memencet hidung
mancung Niken.
"Ish siapa coba yang cemburu,
nggak level cemburu sama si Irene...," Sangkal Niken.
"Yakin nggak bakal cemburu kalau
aku balikan lagi sama Irene? Nanti ada yang tiba-tiba kabur lagi nih ke
Amrik...," Goda Alvi.
"Ih.hhh....," ucap Niken
jengkel. Ia pun mencubit-cubit kecil pinggang Alvi sebagai balasan godaan
menjengkelkan yang dilakukan suaminya terhadap dirinya itu.
Alvi pun mendekat ke arah niken yang duduk
di ranjang tempat tidur. Ia berjongkok di depan Niken, mengambil tangan gadis
itu dan mengenggamnya lembut dalam pamgkuan gadis itu.
"Percaya sama aku, rasa aku ke
Irene udah bener-bener berakhir sejak saat itu. Bagiku, kamulah yang terakhir
untukku, yang ku harap bisa membersamaiku hingga tua nanti. Jadi, ada atau
tidak ada anak di antara kita,
aku tetap akan berada di sampingmu. Dan ku harap kamu juga bersedia untuk tetap
selalu di sampingku..," jelas Alvi.
Niken pun menganggukkan
kepalanya. Air mata nya pun jatuh perlahan menedengar pernyataan yang di
sampaikan oleh Alvi. Melihat wanita yang dicintainya itu meneteskan air mata,
ia menyeka air mata yang menetes di kedua pipi gadis itu.
"Sebelum kita melangkah ke masa
depan kita selesaikan masalah kita satu persatu ya, dimulai dengan Irene dan
gosip yang beredar..," ucap Alvi.
"Kamu hati-hati, Irene itu licik
ia pasti punya seribu satu alasan untuk berkelit dari kesalahan dan
kebohongannya..," ucap Niken.
Alvi pun menganggukkan kepalanya
mendengar ucapan istrinya itu.
"Kamu tenang saja aku sudah punya
bukti yang kuat atas semua perbuatannya, kali ini dia tidak akan bisa berkelit
lagi. Niken pun menganggukkan kepalanya.
Setelah menenangkan kekhawatiran
istrinya Alvi pun bergegas menuju lokasi dimana ia janji temu dengan Irene.
Perjalanan selama tiga puluh menit
itupun mengantarkan Alvi ke sebuah Cafe tempat dimana ia sering bertemu dengan
Irene dulu secara diam-diam. Hal itu dilakukannya karena dulu orang tua Alvi
tidak pernah menyetujui hubungan keduanya.
"Hai...," Sapa Irene kepada
Alvi. Ia tersenyum senang melihat kedatangan lelaki itu.
Namun Alvi hanya menatap datar wanita
di hadapannya. Ia seolah tak percaya bahwa wanita yang pernah dicintainya dulu
itu melakukan hal yang teramat keji menurutnya.
Alvi melemparkan sebuah amplop
berwarna coklat ke atas meja. Irene yang melihat hal itu mengernyitkan
keningnya penasaran dengan apa maksud Alvi memberinya amplop coklat itu.
"Apa ini?" Tanya Irene.
"Bukalah...," Titah Alvi.
Irene membuka amplop coklat itu. Ia
melihat di dalamnya terdapat banyak foto. Kemudian, ia melihat foto itu satu
per satu dan bertapa terkejutnya ia menatap foto-foto yang berada di tangannya
itu.
"In...ini...,"
Ucapnya.
"Semua itu bukti bahwa anaj tang
berada di dalam kandunganmu itu bukan anakku...," Jelas Alvi.
"In..ini nggak seperti yang kamu
pikirkan Alvi, aku visa jelasin semuanya sama kamu..," bantah Irene.
"Kamu mau mengelak apa lagi Ren.
Jika kamu lihat tangal di foto itu maka akan sama dengan hitungan tanggal di
foto usg kamu...," Jelas Alvi.
"Tap..Alvi ini benar anak kamu.
Kamu mabuk waktu itu dan...,"
"Dan kamu menjebakku. Aku sama
sekali tidak pernah menyentuhmu, bahkan saat kita masih berstatus pacaran dulu,
dan kamu tahu itu. Bahwa aku tidak akan menyetuhmu sampai kita menikah...,'
jelas Alvi final. Dan Irene pun tidak dapat berkutik. Ia hanya bisa menangis
meratapi nasibnya.
🎼🎼🎼🎼🎼

0 komentar on "Tujuh Belas"
Posting Komentar