Senin, 17 Oktober 2022
Delapan Belas
"Mengingat hubungan kita di masa
lalu, aku nggak akan membeberkan ini di media. Kamu klarifikasi sendiri
kebenaran dari gosip yang beredar..," ujar Alvi.
Irene pun menganggukkan kepala
mengiyakan.
"Tapi, satu hal yang tidak bisa
aku toleransi Ren...,"
Irene menatap Alvi yang kini masang
wajah dingin di hadapannya. Ia menunggu kelanjutan perkataan lelaki itu.
"Ap..apa?" Tanya nya
terbata-bata.
"Kamu tetap harus menanggung
konsekuensi dari perbuatanmu karena telah meneror Niken...,"
Irene membelalakkan mata. Ia tak
percaya bahwa Alvi mengetahui perbuatannya yang satu itu.
"Vi itu nggak seperti yang
kamu...,"
"Apa? Kamu bilang bahwa ini nggak
seperti yang aku pikirkan? Kamu benar Ren, aku bahkan nggak pernah kepikiran
bahwa kamu akan melakukan hal sekeji itu pada wanita lain...," Ujar Alvi.
"Itu semua karena aku cinta kamu
Alvi...," Ucap Irene
"Shit ..jangan pernah kamu
mengatakan semua itu karena kamu mencintaiku lagi Ren. Jika benar semua yang
kamu lakukan karena cinta, kamu tidak akan pergi meninggalkanku di saat aku
terpuruk. Kamu tidak akan berpaling mendekati Jacky hanya untuk kesuksesanmu...,"
Jelas Alvi
"Aku benar-benar cinta sama kamu
Vi. Dan semua itu ku lakukan agar kamu kembali padaku...," Ucap Irene.
"Sampai kapanpun aku tak akan
pernah kembali padamu Irene. Aku sudah sangat kecewa. Dan untuk semua perbuatan
yang kamu lakukan pada istriku, kamu akan segera mendapatkan ganjarannya,"
ucap Alvi tegas.
Alvi pun kemudian berlalu meninggalkan
Irene. Jika ia bersikap kejam barangkali ia tak perlu menemui Irene terlebih
dahulu, melainkan langsung mengirim wanita itu ke penjara lewat pengacara keluarganya.
Namun, mengingat hubunggannya di masa
lalu bersama gadis itu, ia masih memiliki rasa kasihan.
"Huft...satu selesai. Giliran
yang lainnya...," Gumam Alvi.
🎼🎼🎼🎼🎼
Kini di televisi tengah di
hebohkan dengan berita terkini tentang anak pengusaha industri musik yang
menjadi pecandu narkoba. Siapa lagi kalau bukan "Jacky Malik
Rusdiantoro". Ia kedapatan tengah pesta shabu bersama teman-temannya di
sebuah hotel.
Tak hanya itu, berita lainnya juga
terkait keluarga besar Rusdiantoro. Perusahaan keluarga tersebut di ketahui
tengah melakukan korupsi dengan jumlah yang fantastis. Sang pemilik pun
tersandung kasus pembunuhan beberapa tahun silam.
Yakni ditemukannya bukti bahwa Bram
dan Selvi, seorang musisi dan pemain biola terkenal dari perusahaan ternama
"K-Company" ternyata meninggal bukan karena kecelakaan melainkan
pembunuhan. Ya, pembunuhnya tidak lain dan tidak bukan adalah Malik Rusdiantoro
ayah dari Jacky Malik Rusdiantoro.
Akhirnya kedua ayah dan anak tersebut
harus mendekam di penjara. Tidak hanya itu keduanya juga dihukum dengan hukuman
berlapis mengingat bahwa masih ada kejahatan-kejahatan dan perbuatan keji
lainnya yang mereka lakukan.
Dokter Santoso, yang dulu menjadi
dokter yang merawat Niken pun tak lepas dari hukuman karena melanggar kode
etik. Ia menerima suap untuk menunjukkan kondisi pasiennya kepada pihak lain.
Hingga dimanfaatkan oleh pihak lain untuk meneror pasien yang bersangkutan.
🎼🎼🎼🎼🎼
Di tempat lain, terjadi jumpa pers
untuk model sekaligus pebiola terkenal "Irene Florencia Turano".
Dalam jumpa pers itu ia mengakui bahwa gosip yang beredar itu tidak benar
adanya.
Dalam video dan foto-foto di media
masa, lelaki yang bersamanya saat itu adalah Jacky Malik Rusdiantoro bukannya
Alvi Zeonico Keysnandra. Ia juga mengakui kejahatan lain yang dilakukannya dan
bersedia menerima hukuman.
Tampak beberapa khalayak yang tidak
suka melempari gadis itu dengan telur ayam sertaencaci maki kelakuan buruk sang
bintang idola tersebut.
Irene hanya bisa menerima semua buah
dari perbuatannya. Ia digiring oleh beberapa aparat kepolisian untuk menuju ke
tempat dimana seharusnya gadis itu berada saat ini.
🎼🎼🎼🎼🎼
Kelegaan terpancar di wajah keluarga
Keysnadra. Baik oma Mia, Mama Ratih dan Papa Dana semuanya tampak bernafas lega
karena terselesaikannya kasus rumit tersebut.
Kini keluarga tersebut mengadakan
makan malam bersama keluarga dan kerabat terdekat untuk merayakan keberhasilan
mereka.
"Terima kasih, semua masalah
terselesaikan Nak...," Ujar Dana menepuk pundak kanan Alvi dengan bangga.
Alvi menganggukkan kepalanya.
"Semua ini tidak lepas dari bantuan Fandy, Bagas dan tentu saja William
Pa. Karena bantuan mereka semua, Alvi bisa menyelesaikan semuanya...,"
Ujar Alvi.
Papa Dana pun menganggukkan kepalanya
seraya berterima kasih pada teman-teman putranya itu.
"Nggak masalah Om, nyantai
aja," seru Fandy.
"Iya Om, lagian kita malah lebih
susah kalau liat Alvi galau gegara ditinggal Niken dan gegara masalah
ini...," Ucap Bagas menggoda Alvi yang tentu saja di balas pelototan mata
oleh lelaki itu.
"Oh, jadi ada yang sering galau
nih gara-gara aku tinggal ...," Tambah Niken turut menggoda Alvi,
sementara Alvi jangan ditanya ia merasa malu.
"Halah kayak kamu nggak aja Ken.
Tiap hari juga galau mikirin Alvi, tanya aja Andrea tuh saksinya tiap hari liat
kamu nangis...," Ujar William.
Niken yang mendengar ledekan William
pun berwajah merah bak kepiting rebus. Maksud hati ia ingin menggoda Alvi, Eh
nggak tahunya malah dirinya juga kena ledek sahabatnya sendiri.
"Dasar sahabat
laknat...," Umpat Niken dalam hati.
Sementara Alvi tersenyum menyaksikan
tingkah malu-malu Niken tersebut. Tak hanya dirinya yang malu, Niken juga
begitu.
"Bener Drea, Tante Ken sering
nangis...?" Tanya Alvi pada Andrea yang juga ikut makan malam di samping
sang mama.
Andrea pun menganggukkan kepalanya
mengiyakan.
"Hu"umb, ante Ken sering
nangis. Kalau Drea tanya kenapa nangis katanya karena pangeran berkuda putihnya
gak datang-datang...," Ujar Drea yang tentu saja membuat semua orang
tertawa.
"Drea....," Teriak Niken
dengan raut wajah sangat malu.
🎼🎼🎼🎼🎼
Setelah makan malam usai akhirnya
disinilah Niken dan Alvi berada. Di Gazebo halaman belakang kediaman Keynandra.
"Akhirnya semua masalah
selesai...," Ujar Niken.
Alvi menganggukkan kepalanya. Ia
merasa lega setelah terhimpit beban yang begitu besar, akhirnya kini ia bisa
bernapas lega.
"Kita mulai semua dari awal ya.
Kita hidup bersama sampai kita menua nanti. Mau kan..? Harus ya..." Tanya
Alvi.
"Eh..kok maksa sih. Emang akunya
mau...," Ucap Niken.
"Halah mau aja sudah daripada
kamu nangis tiap hari karena merindukanku...," Ledek Alvi.
"Eh..gr.... Kayak kamu
nggak aja...," Seru Niken.
Alvi pun memandang Niken dengan teduh
sembari menganggukkan kepalanya.
"Sangat, tidak ada hari dimana
aku tidak merindukanmu. Karena itu, apapun yang terjadi di masa depan nanti,
kamu harus janji satu hal padaku. Jangan pernah meninggalkanku lagi...,"
Ujar Alvi.
Niken pun menatap mata teduh Alvi. Ia
menganggukkan kepala sembari berurai air mata.
"Aku berjanji selamanya aku tidak
akan pernah meninggalkan kamu lagi kecuali Tuhan yang memanggilku kembali ke
haribaannya...," Ucap Niken.
Keduanya pun tersenyum dan berpelukan.
Melepas semua kerinduan juga segala perasaan yang sekian lama mereka simpan.
Akhirnya, kebahagiaan menyertai mereka setelah begitu banyak kesulitan yang
mereka hadapi. Kini, melangkah menuju masa depan menjadi lebih mudah ketika
semua permasalahan dimasa lalu terselesaikan.
The End
Tujuh Belas
Jakarta, 3 Bulan Kemudian
Setelah menghabiskan waktu selama tiga
bulan di Amerika, Alvi akhirnya kembali ke Indonesia. Dia kembali tidak
sendiri, melaikan bersama dengan Niken. Tidak hanya itu, William bersama
keluarga kecilnya juga akan ikut ke Indonesia untuk membantu Alvi dan Niken
menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang diakibatkan oleh keluarga
Rusdiantoro dan Turano. Tapi, Will baru bisa berangkat ke Indonesia tiga hari
setelah kepergian Alvi dan Niken karena masih harus menyelesaikan beberapa urusan
di rumah sakitnya.
Kedatangan Alvi dan Niken di sambut
hangat oleh keluarga Keysnandra. Tampak Oma Mia, Papa Dana dan Mama Ratih yang
menyambut kedatangan mereka dengan senyum bahagia. Mama Ratih bahkan tak
henti-hentinya memberikan pelukan pada putrinya itu. Ia lega, melihat keadaan
Niken yang sudah terlihat baik-baik saja. Mereka pun lekas disambut dengan
banyak hidangan lezat di meja makan setelah terlebih dahulu Alvi dan Niken
diberikan kesempatan untuk meletakkan barang bawaan mereka di kamar mereka
masing-masing.
"Jadi, gimana dengan hubungan
kalian....?" tanya Dana kepada kedua putra dan putrinya memulai
percakapan.
"Baik Pa....," jawab Alvi
yang diperkuat pula dengan anggukan kepalanya oleh Niken sebagai persetujuan
jawaban Alvi.
"Jadi masalah perceraian
itu....," Oma Mia mulai membahas akar permasalahan yang semula menjadi
alasan kenapa Alvi pada akhirnya memutuskan untuk terbang ke Amerika menjemput
Niken.
"Tidak akan pernah ada perceraian
Oma. Aku dan Niken akan hidup bersama selamanya...," ucap Alvi sembari
menggenggam tangan Niken dengan lembut. Ia tersenyum lembut kepada sang istri.
"Hmm....Alvi tidak masalah?
Keadaan Niken mungkin...," Mama Ratih mulai sedikit mengungkapkan
kecemasannya. Walau bagaimanapun ia sangat menyayangi Alvi layaknya anak
kandungnya sendiri. Meskipun ia ingin lelaki itu tetap bersama dengan putrinya,
tapi ia juga tidak boleh bersikap egois. Karenanya, ia perlu menanyakan hal itu
kepada menantunya.
"Takdir tidak ada yang tahu Ma.
Memiliki Niken sebagai istri saja Alvi sangat bersyukur. Ia memberi Alvi
segalanya, bahkan sebuah keluarga yang hangat seperti Papa, Mama dan Oma.
Masalah anak, itu hanyalah bonus dari Tuhan untuk kami. Kalau kami di beri
kepercayaan itu kami akan terima, tapi jika sebaliknya kami juga akan ikhlas
menerimanya terlepas dari adanya penyakit itu atau tidak dalam diri Niken.
Karenanya, kami memutuskan untuk menjalaninya saja," jelas Alvi yang di
respon dengan anggukan kepala oleh Mama, Papa dan Oma-nya.
"Oma, Papa dan Mama tidak
keberatan bukan dengan keputusan kami berdua?" tanya Niken kemudian. Ia
meremas tangannya menyembunyikan kecemasannya.
"Kami tidak masalah Nak, apapun
keputusan kalian berdua kami akan hargai dan mendukung kalian...," Ucap
Ratih sembari menggenggam tanggan putrinya dengan lembut.
"Iya, mama-mu benar.
Lagipula Oma juga belum siap di panggil Oma Buyut...," ujar sang Oma.
"Ingat umur omah, kalau nggak di
panggil omah buyut mau di panggil apa?" Ledek Alvi.
"Oma masih muda ya Vi, gak beda
jauh tuh sama mamamu...," Ucap sang omah yang tentu saja dibalas tawa oleh
semua anggota keluarga di rumah itu.
*****
"Kamu yakin, akan menemui
Irene?" Tanya Niken ketika melihat Alvi bersiap hendak pergi. Alvi
menganggukkan kepala sebagai pengganti jawaban ia dari mulutnya.
"Aku cuman pergi selesain masalah
yang ada, nggak usah cemburu gitu..," ledek Alvi sembari memencet hidung
mancung Niken.
"Ish siapa coba yang cemburu,
nggak level cemburu sama si Irene...," Sangkal Niken.
"Yakin nggak bakal cemburu kalau
aku balikan lagi sama Irene? Nanti ada yang tiba-tiba kabur lagi nih ke
Amrik...," Goda Alvi.
"Ih.hhh....," ucap Niken
jengkel. Ia pun mencubit-cubit kecil pinggang Alvi sebagai balasan godaan
menjengkelkan yang dilakukan suaminya terhadap dirinya itu.
Alvi pun mendekat ke arah niken yang duduk
di ranjang tempat tidur. Ia berjongkok di depan Niken, mengambil tangan gadis
itu dan mengenggamnya lembut dalam pamgkuan gadis itu.
"Percaya sama aku, rasa aku ke
Irene udah bener-bener berakhir sejak saat itu. Bagiku, kamulah yang terakhir
untukku, yang ku harap bisa membersamaiku hingga tua nanti. Jadi, ada atau
tidak ada anak di antara kita,
aku tetap akan berada di sampingmu. Dan ku harap kamu juga bersedia untuk tetap
selalu di sampingku..," jelas Alvi.
Niken pun menganggukkan
kepalanya. Air mata nya pun jatuh perlahan menedengar pernyataan yang di
sampaikan oleh Alvi. Melihat wanita yang dicintainya itu meneteskan air mata,
ia menyeka air mata yang menetes di kedua pipi gadis itu.
"Sebelum kita melangkah ke masa
depan kita selesaikan masalah kita satu persatu ya, dimulai dengan Irene dan
gosip yang beredar..," ucap Alvi.
"Kamu hati-hati, Irene itu licik
ia pasti punya seribu satu alasan untuk berkelit dari kesalahan dan
kebohongannya..," ucap Niken.
Alvi pun menganggukkan kepalanya
mendengar ucapan istrinya itu.
"Kamu tenang saja aku sudah punya
bukti yang kuat atas semua perbuatannya, kali ini dia tidak akan bisa berkelit
lagi. Niken pun menganggukkan kepalanya.
Setelah menenangkan kekhawatiran
istrinya Alvi pun bergegas menuju lokasi dimana ia janji temu dengan Irene.
Perjalanan selama tiga puluh menit
itupun mengantarkan Alvi ke sebuah Cafe tempat dimana ia sering bertemu dengan
Irene dulu secara diam-diam. Hal itu dilakukannya karena dulu orang tua Alvi
tidak pernah menyetujui hubungan keduanya.
"Hai...," Sapa Irene kepada
Alvi. Ia tersenyum senang melihat kedatangan lelaki itu.
Namun Alvi hanya menatap datar wanita
di hadapannya. Ia seolah tak percaya bahwa wanita yang pernah dicintainya dulu
itu melakukan hal yang teramat keji menurutnya.
Alvi melemparkan sebuah amplop
berwarna coklat ke atas meja. Irene yang melihat hal itu mengernyitkan
keningnya penasaran dengan apa maksud Alvi memberinya amplop coklat itu.
"Apa ini?" Tanya Irene.
"Bukalah...," Titah Alvi.
Irene membuka amplop coklat itu. Ia
melihat di dalamnya terdapat banyak foto. Kemudian, ia melihat foto itu satu
per satu dan bertapa terkejutnya ia menatap foto-foto yang berada di tangannya
itu.
"In...ini...,"
Ucapnya.
"Semua itu bukti bahwa anaj tang
berada di dalam kandunganmu itu bukan anakku...," Jelas Alvi.
"In..ini nggak seperti yang kamu
pikirkan Alvi, aku visa jelasin semuanya sama kamu..," bantah Irene.
"Kamu mau mengelak apa lagi Ren.
Jika kamu lihat tangal di foto itu maka akan sama dengan hitungan tanggal di
foto usg kamu...," Jelas Alvi.
"Tap..Alvi ini benar anak kamu.
Kamu mabuk waktu itu dan...,"
"Dan kamu menjebakku. Aku sama
sekali tidak pernah menyentuhmu, bahkan saat kita masih berstatus pacaran dulu,
dan kamu tahu itu. Bahwa aku tidak akan menyetuhmu sampai kita menikah...,'
jelas Alvi final. Dan Irene pun tidak dapat berkutik. Ia hanya bisa menangis
meratapi nasibnya.
🎼🎼🎼🎼🎼
Enam Belas
Alvi yang sudah menemani istrinya yang
tertidur sehabis menangis itupun kembali ke ruang keluarga. Disana masih ada
William yang tengah duduk di sofa sembari menonton televisi. Sementara Cathreen
mungkin tengah tidur menemani Andrea yang tadi juga ikut menangis karena
melihat Aunty-nya atau Niken menangis.
"Sudah tidur...," tanya Will
pada Alvi yang kini mendaratkan bokongnya di sofa berdampingan dengan William.
"Sudah berapa lama ia mendapatkan
surat-surat ancaman itu...?" tanya Alvi.
"Sejak di Indonesia. Sebelum
akhirnya dia memutuskan untuk mengikutiku ke sini...," jelas William.
"Ken..kenapa....?"
"Ma'af Vi, aku tidak
memberitahumu sejak dulu karena Niken melarangnya. Ia bilang, lebih baik kamu
tidak tahu. Itu akan mudah untuk kamu melupakannya dan hidup bahagia..,"
jelas Will.
Alvi menggaruk gusar rambutnya.
"Bagaimana mungkin dia berpikir seperti itu?"
"Aku mengenal Niken cukup lama
dan aku tahu bahwa ia akan memberi keputusan yang rasional menurutnya meskipun
harus mengorbankan dirinya sendiri. Ia tidak ingin keluarganya yang sudah lama
tidak diketahuinya itu menderita. Kamu tahu Vi, ketika ia mengetahui perihal
keluarganya yang sebenarnya Niken sangat bahagia. Kebahagiaan yang mungkin
sudah lama tak ia rasakan setelah orangtua angkatnya yaitu Tante Selvi dan Om
Bram juga adiknya Viola meninggal dunia. Padahal, ia hanya bisa melihat
keluarganya dari jauh, ia tidak mendapatkan kasih sayang yang semestinya dari
kedua orang tua kandungnya. Tapi, ia bahagia dan ia menyembunyikan
kebahagiaannya itu dalam kebencian. Ia tidak membenci orang tuanya yang tidak
mengakuinya sebagai anak, ia hanya membenci karena memperlakukanmu sebagai alat
untuk balas dendam. " jelas William," ucap Will.
William menghela napas dan kemudian
melanjutkan ceritanya.
"Dan karena kamulah, akhirnya ia
menemukan tekadnya untuk menghentikan ayahnya. Ia belajar keras manajemen dan
segala hal tentang bisnis, meskipun ia tidak pernah menyukai bidang itu. Salah
satu hal yang sangat disukainya hanyalah bermain biola. Dan ia akan tampak
sangat ceria setiap kali memainkan benda kecil yang digesek itu. Tapi, demi
memutus kerumitan masalah keluarganya itu, ia melakukan apa yang tidak
disukainya itu. Dan kemudian hadir di tengah keluarga kandungnya sendiri meski
ia harus menyembunyikan identitasnya yang sebenarnya. Ia juga bahagia ketika
menikah denganmu, bukan tanpa alasan ia sangat menyukaimu. Aku bisa melihat
binar bahagia dari matanya dulu, setiap kali Viola menceritakan tentang kamu
kepada Niken. Namun, seolah Tuhan enggan membuatnya bahagia dalam waktu lama,
kebahagiaan itu terenggut darinya. Setelah mendapati kenyataan bahwa ia
menderita penyakit auto imun itu,"
Hening tercipta diantara keduanya.
Alvi masih terdiam mendengarkan dengan saksama cerita William tentang
istrinya.
"Lantas, kenapa Irene bisa
tahu bahwa dia menderita penyakit itu...?" Alvi pun akhirnya menanyakan
pertanyaan yang sudah sejak tadi berkelebat dalam kepalanya.
William mengangkat bahunya. "Aku
juga tidak tahu. Pasalnya, setelah didiagnosis penyakit tersebut oleh dokter di
Indonesia tiga tahun yang lalu dia tidak pernah memberitahu kepada siapapun
selain aku dan Cathreen. Bahkan Mamanya, Tante Ratih baru tahu penyakit
tersebut tiga bulan yang lalu, ketika Niken memutuskan untuk meminta cerai
darimu setelah mendengar gosip tentang kehamilan Irene,"
"Kamu sudah berusaha mencari tahu
siapa orang yang membocorkan tentang penyakit Niken itu?" tanya Alvi lagi.
William menganggukkan kepala.
"Sudah, tapi hasilnya nihil. Aku sudah bertanya pada beberapa dokter yang
ku kenal bekerja di rumah sakit tempat Niken melakukan pemeriksaan tapi
hasilnya Nihil. Mungkin, ada seseorang yang sangat berkuasa di sana yang bisa
mengakses semua informasi pribadi dengan mudah, hingga Irene bisa mengetahui
informasi tentang penyakit Niken yang seharusnya rahasia," ujar Will.
Alvi memutar otaknya mencari tahu
kemungkinan-kemungkinan orang yang sangat berkuasa tiga tahun yang lalu.
Seseorang yang berada di balik layar yang bisa membatu Irene untuk mendapatkan
informasi rahasia itu. Dan satu nama melintas di kepalanya.
"Aku tahu orang itu...,"
cetus Alvi kemudian.
"Siapa?" tanya William
penasaran.
"Siapa lagi kalau bukan Jacky,
Jacky Malik Rusdiantoro. Keluarga Rusdiantoro cukup berkuasa saat itu. Jadi ia
tentu saja bisa melakukan apapun dengan nama keluarganya untuk membantu Irene
mendapatkan informasi rahasia itu," jelas Alvi.
"Untungnya buat dia apa?"
tanya Will.
"Karena dia memiliki dendam
kepadaku. Tidak hanya dia tapi seluruh keluarganya menaruh dendam kepada
keluarga Keysnandra...," ujar Alvi.
"Jad..jadi bisa jadi
dia...,"
Alvi menganggukkan kepalanya seraya
memberi jawaban "iya" atas pertanyaan Will yang belum tuntas.
"Kemungkinan besar mereka
dalangnya. Mereka akan melakukan segala cara untuk menggoyahkan posisi Keluarga
Keynandra dalam hal apapun baik itu di bidang bisnis perusahaan atau menghancurkan
keluarga Keysnandra satu persatu. Seperti yang terjadi pada Tante Selvi dan Om
Bram yang sudah dianggap sebagai keluarga Keysnandra, juga Viola saudara kembar
Niken. Dan sekarang yang menjadi targetnya adalah Niken. Mereka berusaha untuk
membuat Niken terpuruk akan kondisinya...,"
"Iya, bisa jadi benar. Karena
saat itu pertama kalinya Niken mendapatkan surat-surat ancaman itu, ia sempat
histeris dan depresi. Karena itulah aku menyiapkannya kamar dirumahku ini
untuknya, agar ia tidak sendirian di apartemen dan membuat aku dan Cathreen
tidak bisa menjaganya saat ia kembali mendapat teror-teror itu...," jelas
Will. "Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya William.
"Aku akan menyuruh beberapa
detektif mencari tahu kebenaran dugaan kita itu serta mengumpulkan bukti-bukti
yang kuat untuk bisa memenjarakan mereka dan keluarganya," jelas Alvi.
"Ya... aku setuju...,"
"Oh, ya kamu juga punya
bukti-bukti yang sudah dikumpulkan Niken terkait dengan kematian Tante Selvi,
Om Bram dan Viola kan?" tanya Alvi.
"Iya, aku tahu dimana Niken
menyimpannya. Aku juga ikut serta membantunya mengumpulkan bukti-bukti itu jadi
sedikit banyak aku tahu. Tapi, kami menghentikan pencarian bukti-bukti itu lagi
sejak tiga tahun lalu, mengingat aku harus memprioritaskan untuk menjaga
kondisi Niken dari..,"
"Ya, aku tahu. Tidak masalah,
kita bisa melanjutkan pencarian bukti-bukti itu lagi. Terima kasih Will. Kamu
menjaga Niken yang seharusnya menjadi tugasku...," ujar Alvi.
"Tidak masalah. Niken
sahabatku, aku mengenalnya sejak kecil dan ia sudah seperti keluargaku sendiri.
Jadi, kamu tidak perlu berterima kasih kepada sesama saudara...," ujar
Will.
"Ekhm....,"
"Ya....?"
"Selain itu, aku juga minta ma'af
padamu Will...," ujar Alvi.
William mengerutkan kening, ia bingung
dan tidak mengerti maksud perkataan Alvi.
"Minta ma'af untuk..?"
"Karena pernah berpikir buruk
tentangmu. Bahwa kamu adalah selingkuhan Niken...," ujar Alvi.
Mendengar hal itu William hanya bisa
tertawa. "Ya Tuhan, kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu..?"
"Ya namanya juga....,"
"Cemburu...," goda Will.
Yang tentu saja membuat Alvi mendengus.
Sementara William masih dengan tawanya
yang tak henti-henti. Alvi akhirnya melangkahkan kaki kembali ke kamar yang
ditempati Niken di rumah Will, tanpa menghiraukan sang pemilik rumah yang masih
menertawai kebodohan pemikirannya tadi itu.
"Mau kemana? Kabur...," ujar
Will.
Alvi hanya mengedikkan bahu, acuh.
Tapi ketika Will menyuruhnya mendekat untuk memberitahukan satu rahasia tentang
Niken, mau tak mau Alvi pun kembali melangkahkan kakinya menuju Will.
"Niken tidak pernah
pacaran. Kamu satu-satunya lelaki yang ia suka. Ia tidak pernah terlibat
pergaulan bebas meskipun cukup lama tinggal di Amrik. Jadi dia
masih...,"
Alvi memotong penjelasan Will. Karena
ia tahu apa yang akan dikatakan lelaki itu kepadanya.
"Aku tahu...," ujar Alvi.
Sementara William cengo mendengar perkataan Alvi itu. Ia mengernyit bingung
kenapa lelaki itu bisa tahu padahal ia belum menyelesaikan penjelasannya.
"Karena aku orang yang pertama melakukan itu padanya...," jelas Alvi
santai dan melenggang pergi meninggalkan lelaki itu.
Sementara Will melayangkan bantal sofa
ke Alvi setelah mendengar perkataan Alvi.
"Jadi, kemari setelah kamu baru
nyampai di Amrik kamu dan Niken melakukan itu?" tanya William sembari
berteriak karena lelaki itu melenggang pergi menuju kamar Niken. Ia dapat
melihat lelaki itu hanya mengedikkan bahunya seraya menjadi jawaban atas
pertanyaan Will.
"Dasar, awalnya sok-sok an pada
nggak mau. Nyatanya lama nggak ketemu eh malah nggak tau malu langsung
melakukan itu," gerutu Will. Ia pun kemudian mematikan televisi dan menuju
ke kamarnya untuk menyusul sang istri dan anaknya yang tengah tidur siang.
🎼🎼🎼🎼🎼
Lima Belas
Seperti yang dijanjikannya kepada Alvi
kemarin, Niken membawa Alvi ke rumah William. Rumah tersebut tidak terlalu
besar, namun memiliki halaman yang cukup luas dengan rumput yang terawat dengan
rapi. Bunga-bunga di taman tersebut juga indah ditata sedemikian rupa hingga
tampak begitu mengagumkan.
Niken membunyikan bel di rumah itu.
Tak selang beberapa lama seseorang membukakan pintu rumah. Ia adalah seorang
wanita yang berusia terpaut tiga tahun di atas Niken. Ia menyambut Niken dengan
pelukan dan senyuman mengembang. Mempersilakan Niken untuk masuk ke dalam
rumahnya. Sementara Alvi yang mengikuti Niken dari belakang hanya tersenyum dan
menganggukkan kepalanya untuk menyapa.
"Siapa...?" tanya Alvi
kepada Niken dengan nada berbisik.
"Cathreen. Istri Will...,"
jawab Niken.
"Istri Will, Indo...?" tanya
Alvi lagi yang di jawab Niken dengan anggukan kepala. "Aku pikir istrinya
bule...," ujar Alvi masih dengan suara lirih agar tak terdengar sang
pemilik rumah.
"Will suka gadis lokal. Lagipula,
Will juga bukan seratus persen keturunan Amrik. Neneknya Will aja yang asli
orang Amerika," jelas Niken.
Alvi pun mengangguk-anggukkan
kepalanya seraya mengerti penjelasan dari Niken. Melihat Will, memang lelaki
itu tidak tampak seperti bule asli. Wajahnya masih mirip orang Indonesia, hanya
warna mata dan postur tubuhnya yang membedakan bahwa ia terlihat seperti orang
asing.
"Aunty Ken....," sambut
seorang gadis kecil dengan rambut keriting yang di kuncir dua. Ia berlari dan
memeluk kaki Niken. Niken pun mengambil gadia kecil itu dan menggendongnya.
"Andrea sayang, Aunty
kangen....," ujar Niken sembari menciumi gadis kecil pemilik pipi chuby
itu.
Will yang mengetahui kedatangan Niken
pun segera menyambutnya. Ia merentangkan tangan untuk memeluk Niken yang sedang
menggendong Andrea. Tapi, sebuah tatapan tajam menghentikan kebiasaan William
kepada sahabatnya itu.
"Eh...aku nggak tahu kalau kamu
bawa pawang...," ujar William terkekeh. Sementara Alvi hanya memutar bola
matanya malas. Ia memang sudah beberapa kali melihat Will di Indonesia bersama
dengan Niken. Bahkan lelaki itupun hadir ketika keduanya melangsungkan
pernikahan. Tapi, hanya sebatas itu, Alvi tidak mengenal William lebih dari itu.
Bahkan ia semula mengira bahwa Will adalah kekasih Niken, tapi apa yang
dilihatnya hari ini mampu mematahkan prasangkanya itu.
Niken sudah duduk di sofa ruang
keluarga Will begitu pula dengan Alvi dan William. Sementara Cathreen, berjalan
ke dapur untuk menyiapkan minuman dan beberapa cemilan untuk tamunya.
"Sejak kapan kamu tiba di
Amrik?" tanya William pada Alvi. Pasalnya Niken sang sahabat tidak
memberitahu apapun perihal kedatangan lelaki itu.
"Kemarin...," ujar Alvi
singkat. Sementara William yang mendengar jawaban dari lelaki itu hanya
mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kenapa tidak di ajak kemari dari
kemarin...?" tanya William lagi yang kini diajukan kepada sang sahabat.
"Eh ya quality time dulu lah.
Sudah tiga tahun nggak ketemu...," jelas Niken.
"Alah..sok-sok an kamu quality
time, kangen juga kan nggak ketemu dia. Disuruh pulang nggak mau, jadi emang
pinginnya di jemput ya...," ledek Will kepada Niken. Sementara Niken yang
mendengar ledekan dari sahabatnya itu hanya cemberut. Berbeda dengan Alvi yang
tersenyum, ia dapat melihat semburat merah di pipi Niken setelah mendapat
ledekan dari Will.
"Ya, namanya juga wanita Will,
bilangnya nggak mau tapi sebenarnya mau kan...," Alvi menambahkan
pernyataan ejekan Will kepada Niken tadi yang tentu saja membuat Niken lebih
cemberut.
"So...kalian....?" William
kembali bertanya, tapi ia tak melanjutkan pertanyaannya karena kedua orang yang
tengah duduk di hadapannya itu telah menganggukkan kepalanya untuk memberi
jawaban atas pertanyaan Will yang belum tuntas tersebut.
"Kami akan kembali ke
Indo...," ujar Alvi.
"Itu bagus.. bawa aja dia nih,
biar nggak ngerusuh aja disini...," ujar Will.
"Ih...siapa yang ngerusuhin kamu
sih Will...," ucap Niken tidak terima dengan pernyataan sang sahabat.
"Lah apa namanya tidak ngerusuh.
Tiap hari datang cuman untuk memonopoli Cathreen buat curhat, kadang
nangis-nangis karena kangen sama lakinya...," ucap Will yang tentu saja
membuat Niken bersungut karena membongkar rahasianya di depan Alvi.
"Makanya, kalau kangen ya samperin. Jangan dipendem sendiri aja...,"
tambah Will.
"Ih...Will mah....,"
Niken tampak malu karena rahasianya yang selama ini selalu merindukan Alvi
terbongkar di depan lelaki itu.
"Sudah..sudah Will berhenti
meledek Niken, tuh lihat pipinya udah merah kayak kepiting rebus," bela
Cathreen yang datang dengan membawa minuman dan cemilan. Ia pun kemudian
mendudukkan dirinya tepat disamping William, sang suami.
"Eh, bener kan Yang, tiga bulan
yang lalu dia datang nangis-nangis minta cerai aja dari Alvi karena cemburu...,"
ucap William yang sontak mendapatkan pelototan tajam baik dari Niken maupun
Cathreen. "Ups...sorry keceplosan..," ujar William sembari menggaruk
tengkuknya yang tidak gatal.
"Eh...cemburu kenapa?" tanya
Alvi kepada Niken, namun Niken hanya menundukkan kepalanya sembari memeluk
Andrea yang ada di pangkuannya. Tak mendapatkan jawaban dari sang istri, ia pun
kembali mengajukan pertanyaan itu kepada William dan Cathreen.
"Apalagi kalau bukan scandal kamu
dengan sang model terkenal "Irene Turano"," jelas Will.
Alvi menghirup udara banyak-banyak.
Kemudian ia mengarahkan pandangannya pada wanita yang duduk disampingnya itu.
"Kamu percaya gosip yang tidak
mendasar itu? Hubungan aku sama Irene sudah berakhir lama dan kamu sendiri tahu
tentang itu. Karena sejak kamu memberi tahu kebenaran tentang Irene dulu dan
aku membuktikan kebenaran tentang ucapanmu, hubungan diantara aku dan Irene
berakhir saat itu juga. Jadi, nggak mungkin banget kalau aku yang telah
menghamili Irene...," jelas Alvi.
Niken yang mendengar penjelasan Alvi
pun menganggukkan kepalanya. Ia memang tidak mempercayai apa yang dimuat di
berita gosip itu. Tapi, tetap saja pemikiran-pemikiran buruk itu bersarang di
kepala cantiknya.
"Lantas kenapa kamu masih
meragukanku...?" tanya Alvi.
Niken lantas menyerahkan Andrea
kepada Cathreen setelah memberi penjelasan pada gadis kecil itu yang telah
duduk nyaman dipangkuannya sedari tadi. Ia berjalan menuju ke sebuah kamar di
rumah William. Ia yang memang sering menginap di rumah William memiliki kamar
tersendiri yang disediakan oleh sang pemilik rumah untuk gadis itu.
Setelah beberapa menit ia pun kembali
dengan membawakan sebuah kardus kecil. Setelah sampai ditempat duduknya semula
ia menyerahkan kardus kecil itu kepada Alvi ia kembali menundukkan kepalanya.
Tak berani menatap wajah lelaki itu.
Alvi mengernyitkan keningnya, menerima
kardus kecil yang diberikan oleh Niken. Perlahan-lahan ia membuka tutup kardus
itu. Dan ia terkejut mendapati apa yang ada di dalamnya. Disana banyak sekali
foto dirinya dan Irene. Dan foto-foto itu banyak yang foto lama, yang baru
hanya beberapa dan itu tampaknya di foto dengan tidak begitu jelas karena
mungkin diambil dari jarak yang jauh.
"In..ini.....?"
"Irene yang mengirimkan
surat-surat ancaman dan foto-foto itu pada Niken...," jelas Cathreen.
"Jadi alasan kamu tidak kembali
juga karena ancaman-ancaman ini...?" tanya Alvi yang di jawab anggukan
oleh Niken.
"Ya, Tuhan...,"ujar Alvi.
Kemudian Alvi pun merengkuh Niken
dalam pelukannya. Gadis yang sudah tak gadis lagi itu meneteskan air matanya.
Isak tangis begitu memilukan terdengar dari Niken. Dan Alvi hanya bisa mengusap
punggung gemetar gadis yang ada di dalam pelukannya itu.
🎼🎼🎼🎼🎼
Minggu, 16 Oktober 2022
Empat Belas
Alvi menatap gadis yang tidur di
sampingnya. Ah, mungkin bukan gadis lagi sebutannya sekarang karena apa yang
sudah dilakukannya pada Niken beberapa saat yang lalu. Ia melihat Niken
terlelap dalam pelukannya dirapikannya anak-anak rambut yang menutupi wajah
Niken. Ia juga berkali-kali mencium kening Niken, hingga Niken merasa tidurnya
terusik dan akhirnya ia pun bangun.
"Kenapa tidak tidur?" ucap
Niken dengan suara seraknya khas bangun tidur.
Alvi mendekat ke arah Niken. Ia
berbisik lirih di telinga Niken. "Pengen lagi...," ujarnya.
Niken sontak melototkan matanya. Ia
tidak percaya dengan apa yang Alvi katakan barusan. Bisa-bisanya lelaki itu
mengatakan hal seperti itu.
"Dasar mesum...," ujar Niken
sembari memukul dada bidang Alvi. Alvi terkekeh melihat wajah Niken yang
dipenuhi oleh semburat merah.
"Kamu cantik kalau lagi blushing....,"
ujar Alvi sembari mengusap pipi Niken dengan lembut. Mendapat perlakuan seperti
itu dari suaminya tentu saja membuat Niken semakin malu.
"Bukannya aku menolak, tapi bener
deh aku capek. Lagian ini yang pertama dan...," ucapan Niken terhenti oleh
perkataan Alvi kemudian.
"Memangnya aku mau apa sayang.
Kamu tuh yang pikirannya mesum...," ucap Alvi sembari menjitak kepala
Niken, namun dengan penuh kelembutan.
"Eh...aku pikir kamu....,"
"Aku nggak akan sekejam itu minta
lagi sama kamu di saat pertama kalinya buat kamu...," ucap Alvi yang tentu
saja membuat Niken kembali bersemu merah karena malu. Ia malu akan pemikirannya
sendiri. Bisa-bisanya dia berpikir kalau Alvi ingin...ah lupakan, batin Niken.
Alvi mencium kening Niken dengan
lembut. Ia pun membelai rambut istrinya dengan lembut, sementara Niken
menyembunyikan wajah malunya atas pemikirannya tadi ke dalam pelukan Alvi.
"Terima kasih karena sudah
menjaganya untuk aku...," ujar Alvi kemudian.
Niken mendongak melihat wajah
sumringah suaminya. Suami? Bahkan mengatakan kata itu saja sudah membuat Niken
merasa malu.
"Kamu suami aku, tentu saja aku
menjaganya untukmu. Kenapa harus berterima kasih ?" ucapnya yang masih
bingung kenapa suaminya malah berterima kasih atas apa yang menjadi
kewajibannya sebagai seorang istri.
"Tentu saja aku harus berterima
kasih kepada istriku yang cantik ini. Hidup di negeri orang terlebih dengan
budaya yang sangat bebas seperti ini, tapi masih bisa menjaga diri dengan baik
tentu aku harus mengapresiasi hal itu bukan?" ujarnya dengan nada menggoda
yang tentu saja membuat Niken menjadi lebih malu lagi.
Kemudian sebuah pemikiran muncul
ketika Alvi pertama kali datang ke apartemen Niken beberapa waktu yang
lalu.
"Eh, tapi kamu tidak menyambut
tamu kamu seperti saat kamu menyambutku tadi bukan?" tanya Alvi.
Niken memukul kecil dada Alvi.
"Sembarangan mana mungkin....,"
"Buktinya tadi....,"
"Tidak ada yang bertamu sepagi
itu kecuali kamu. Tentu saja aku baru bangun tidur tadi, makanya....,"
Niken tak meneruskan kata-katanya karena ia malu mengingat bahwa ia masih
mengenakan gaun tidur tipis ketika ia membuka pintu apartemen untuk Alvi.
"Bahkan Will juga...?"
"Tentu. Will tidak pernah
berkunjung tanpa pemberitahuan. Dia pasti akan memberitahu dulu sebelum
datang...,"ucap Niken. Alvi mengerutkan kening, mendengar penjelasan Niken
meskipun Niken tidak pernah menyambut Will seperti ketika ia menyambut dirinya
tadi, tapi tetap saja ia mengetahui Will sering ke apartemen Niken.
Melihat perubahan raut wajah suaminya
itu Niken pun tersenyum simpul. Ia tahu lelaki yang sah menjadi suaminya itu
tengah cemburu.
"Nggak udah cemburu, Will nggak
pernah kesini sendirian. Ia selalu membawa Catreen dan Andrea kesini...,"
jelas Niken.
"Ekhem....siapa yang
cemburu....," ucap Alvi menyembunyikan rasa cemburunya dibalik wajah
datarnya. Niken hanya terkekeh melihat kelakuan suaminya itu, lelaki dengan
semua rasa gengsinya, pikirnya.
"Catreen dan Andrea, siapa?"
tanya Alvi kemudian, mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
"Catreen, istri Will dan Andrea putri
kecil mereka. Will dan Catreen sering menitipkan Baby An disini kalau mereka
sedang ingin quality time...," jelas Niken.
"Orang tua yang egois.
Masak ingin berduaan saja dan meninggalkan anaknya sama kamu," gerutu
Alvi.
Niken meluruskan kening Alvi yang
berkerut dengan jemari tangannya. Lelaki itu mengernyitkan kening sembari
menggerutu.
"Bukan egois sayang. Terkadang
mereka juga butuh waktu untuk berdua agar hubungan diantara kedua semakin erat.
Terkadang bukan hanya untuk bersenang-senang saja, namun untuk menyelesaikan
suatu persilisihan atau permasalah apapun. Mereka hanya tidak ingin anak mereka
berpikir macam-macam tentang orang tua mereka. Karena itu kadang mereka
menitipkan buah hati mereka kepada beberapa orang yang mereka percayai sanggup untuk
menjaga anak mereka. Seperti Will dan Catreen yang mempercayakan Andrea
padaku," jelas Niken panjang lebar.
"Kamu tidak kesulitan menjaga
putri mereka siapa tadi namanya Andrea ya...?" Tanya Alvi yang dijawab
dengan anggukan kepala oleh Niken.
"Tidak sama sekali. Andrea gadis
kecil yang lucu. Ia tidak pernah merepotkanku sama sekali. Malah terkadang aku
terbantu dengan keberadaannya....," ujar Niken.
"Aku tidak sabar jadi ingin
ketemu Andrea yang kamu maksud itu...,"
"Tentu, besok aku bisa mengajak
kamu ke rumah Will...," ujar Niken. Dan Alvi pun menganggukkan kepala
sebagai pertanda persetujuannya akan usul Niken tersebut.
"Lantas, apa rencana kita hari
ini?" tanya Niken.
"Quality time....," sahut
Alvi dengan menarik turun kan alisnya.
"Hmm..dasar mesum...," ucap
Niken.
Dan Alvi hanya bisa terkekeh melihat
tingkah Niken yang terkesan malu-malu tersebut.
Keduanya saling pandang, dan
keheningan tercipta setelahnya. Namun kemudian terdengar suara yang membuat
keduanya tertawa bersama.
Kruyuk...kryuk....
"Hahahaha....," tawa
keduanya.
"Sepertinya kita perlu mengisi
tenaga dulu sebelum bertempur kembali," ucap Alvi dengan nada menggoda.
Sementara Niken hanya tersenyum malu mendengar ucapan Alvi yang terkesan
vulgar.
"Ayo mandi bersama...," ujar
Alvi kembali masih dengan nada menggoda.
"Ish...dasar mesum. Mas dulu sana
yang mandi...," ucap Niken canggung.
"Mas....," ucap Alvi memberi
penekanan dari perkataan Niken tadi. Niken yang menyadari sebutan yang ia buat
untuk memanggil Alvi pun menunduk malu.
"Aku suka panggilan
itu.."Mas"....," ujarnya sembari menoel pipi Niken yang menunduk
malu. Ia pun kemudian beranjak menuju kamar mandi.
Niken pun membereskan kamar yang
berantakan akibat ulah mereka berdua beberapa saat yang lalu. Mengingat semua
kejadian itu tentu saja membuat semburat merah tak henti nampak di pipi Niken.
Usai membersihkan semua kekacauan di kamarnya Niken menuju ruang tamu untuk
mengambil koper Alvi. Ia menyiapkan pakaian ganti untuk Alvi di atas ranjang,
sementara pakaian Alvi lainnya ia tata rapi di dalam lemari tepat disamping
baju-baju miliknya.
"Mas, pakaiannya ada di ranjang.
Aku tinggal ke dapur dulu untuk menyiapkan makanan," ujarnya. Yang
langsung mendapat sahutan "ya" dari seseorang yang tengah berada di
kamar mandi tersebut.
Niken lekas menuju dapur untuk
menyiapkan makanan sembari menunggu gilirannya mandi usai Alvi. Tak lama
bergulat di dapur ia pun selesai menyiapkan makanan untuk mereka berdua.
Sepiring omelet dan segelas kopi untuk Alvi serta secangkir susu hangat untuk dirinya
sendiri sudah tertata rapi di atas meja makan.
🎼🎼🎼🎼🎼
Senin, 17 Oktober 2022
Delapan Belas
"Mengingat hubungan kita di masa
lalu, aku nggak akan membeberkan ini di media. Kamu klarifikasi sendiri
kebenaran dari gosip yang beredar..," ujar Alvi.
Irene pun menganggukkan kepala
mengiyakan.
"Tapi, satu hal yang tidak bisa
aku toleransi Ren...,"
Irene menatap Alvi yang kini masang
wajah dingin di hadapannya. Ia menunggu kelanjutan perkataan lelaki itu.
"Ap..apa?" Tanya nya
terbata-bata.
"Kamu tetap harus menanggung
konsekuensi dari perbuatanmu karena telah meneror Niken...,"
Irene membelalakkan mata. Ia tak
percaya bahwa Alvi mengetahui perbuatannya yang satu itu.
"Vi itu nggak seperti yang
kamu...,"
"Apa? Kamu bilang bahwa ini nggak
seperti yang aku pikirkan? Kamu benar Ren, aku bahkan nggak pernah kepikiran
bahwa kamu akan melakukan hal sekeji itu pada wanita lain...," Ujar Alvi.
"Itu semua karena aku cinta kamu
Alvi...," Ucap Irene
"Shit ..jangan pernah kamu
mengatakan semua itu karena kamu mencintaiku lagi Ren. Jika benar semua yang
kamu lakukan karena cinta, kamu tidak akan pergi meninggalkanku di saat aku
terpuruk. Kamu tidak akan berpaling mendekati Jacky hanya untuk kesuksesanmu...,"
Jelas Alvi
"Aku benar-benar cinta sama kamu
Vi. Dan semua itu ku lakukan agar kamu kembali padaku...," Ucap Irene.
"Sampai kapanpun aku tak akan
pernah kembali padamu Irene. Aku sudah sangat kecewa. Dan untuk semua perbuatan
yang kamu lakukan pada istriku, kamu akan segera mendapatkan ganjarannya,"
ucap Alvi tegas.
Alvi pun kemudian berlalu meninggalkan
Irene. Jika ia bersikap kejam barangkali ia tak perlu menemui Irene terlebih
dahulu, melainkan langsung mengirim wanita itu ke penjara lewat pengacara keluarganya.
Namun, mengingat hubunggannya di masa
lalu bersama gadis itu, ia masih memiliki rasa kasihan.
"Huft...satu selesai. Giliran
yang lainnya...," Gumam Alvi.
🎼🎼🎼🎼🎼
Kini di televisi tengah di
hebohkan dengan berita terkini tentang anak pengusaha industri musik yang
menjadi pecandu narkoba. Siapa lagi kalau bukan "Jacky Malik
Rusdiantoro". Ia kedapatan tengah pesta shabu bersama teman-temannya di
sebuah hotel.
Tak hanya itu, berita lainnya juga
terkait keluarga besar Rusdiantoro. Perusahaan keluarga tersebut di ketahui
tengah melakukan korupsi dengan jumlah yang fantastis. Sang pemilik pun
tersandung kasus pembunuhan beberapa tahun silam.
Yakni ditemukannya bukti bahwa Bram
dan Selvi, seorang musisi dan pemain biola terkenal dari perusahaan ternama
"K-Company" ternyata meninggal bukan karena kecelakaan melainkan
pembunuhan. Ya, pembunuhnya tidak lain dan tidak bukan adalah Malik Rusdiantoro
ayah dari Jacky Malik Rusdiantoro.
Akhirnya kedua ayah dan anak tersebut
harus mendekam di penjara. Tidak hanya itu keduanya juga dihukum dengan hukuman
berlapis mengingat bahwa masih ada kejahatan-kejahatan dan perbuatan keji
lainnya yang mereka lakukan.
Dokter Santoso, yang dulu menjadi
dokter yang merawat Niken pun tak lepas dari hukuman karena melanggar kode
etik. Ia menerima suap untuk menunjukkan kondisi pasiennya kepada pihak lain.
Hingga dimanfaatkan oleh pihak lain untuk meneror pasien yang bersangkutan.
🎼🎼🎼🎼🎼
Di tempat lain, terjadi jumpa pers
untuk model sekaligus pebiola terkenal "Irene Florencia Turano".
Dalam jumpa pers itu ia mengakui bahwa gosip yang beredar itu tidak benar
adanya.
Dalam video dan foto-foto di media
masa, lelaki yang bersamanya saat itu adalah Jacky Malik Rusdiantoro bukannya
Alvi Zeonico Keysnandra. Ia juga mengakui kejahatan lain yang dilakukannya dan
bersedia menerima hukuman.
Tampak beberapa khalayak yang tidak
suka melempari gadis itu dengan telur ayam sertaencaci maki kelakuan buruk sang
bintang idola tersebut.
Irene hanya bisa menerima semua buah
dari perbuatannya. Ia digiring oleh beberapa aparat kepolisian untuk menuju ke
tempat dimana seharusnya gadis itu berada saat ini.
🎼🎼🎼🎼🎼
Kelegaan terpancar di wajah keluarga
Keysnadra. Baik oma Mia, Mama Ratih dan Papa Dana semuanya tampak bernafas lega
karena terselesaikannya kasus rumit tersebut.
Kini keluarga tersebut mengadakan
makan malam bersama keluarga dan kerabat terdekat untuk merayakan keberhasilan
mereka.
"Terima kasih, semua masalah
terselesaikan Nak...," Ujar Dana menepuk pundak kanan Alvi dengan bangga.
Alvi menganggukkan kepalanya.
"Semua ini tidak lepas dari bantuan Fandy, Bagas dan tentu saja William
Pa. Karena bantuan mereka semua, Alvi bisa menyelesaikan semuanya...,"
Ujar Alvi.
Papa Dana pun menganggukkan kepalanya
seraya berterima kasih pada teman-teman putranya itu.
"Nggak masalah Om, nyantai
aja," seru Fandy.
"Iya Om, lagian kita malah lebih
susah kalau liat Alvi galau gegara ditinggal Niken dan gegara masalah
ini...," Ucap Bagas menggoda Alvi yang tentu saja di balas pelototan mata
oleh lelaki itu.
"Oh, jadi ada yang sering galau
nih gara-gara aku tinggal ...," Tambah Niken turut menggoda Alvi,
sementara Alvi jangan ditanya ia merasa malu.
"Halah kayak kamu nggak aja Ken.
Tiap hari juga galau mikirin Alvi, tanya aja Andrea tuh saksinya tiap hari liat
kamu nangis...," Ujar William.
Niken yang mendengar ledekan William
pun berwajah merah bak kepiting rebus. Maksud hati ia ingin menggoda Alvi, Eh
nggak tahunya malah dirinya juga kena ledek sahabatnya sendiri.
"Dasar sahabat
laknat...," Umpat Niken dalam hati.
Sementara Alvi tersenyum menyaksikan
tingkah malu-malu Niken tersebut. Tak hanya dirinya yang malu, Niken juga
begitu.
"Bener Drea, Tante Ken sering
nangis...?" Tanya Alvi pada Andrea yang juga ikut makan malam di samping
sang mama.
Andrea pun menganggukkan kepalanya
mengiyakan.
"Hu"umb, ante Ken sering
nangis. Kalau Drea tanya kenapa nangis katanya karena pangeran berkuda putihnya
gak datang-datang...," Ujar Drea yang tentu saja membuat semua orang
tertawa.
"Drea....," Teriak Niken
dengan raut wajah sangat malu.
🎼🎼🎼🎼🎼
Setelah makan malam usai akhirnya
disinilah Niken dan Alvi berada. Di Gazebo halaman belakang kediaman Keynandra.
"Akhirnya semua masalah
selesai...," Ujar Niken.
Alvi menganggukkan kepalanya. Ia
merasa lega setelah terhimpit beban yang begitu besar, akhirnya kini ia bisa
bernapas lega.
"Kita mulai semua dari awal ya.
Kita hidup bersama sampai kita menua nanti. Mau kan..? Harus ya..." Tanya
Alvi.
"Eh..kok maksa sih. Emang akunya
mau...," Ucap Niken.
"Halah mau aja sudah daripada
kamu nangis tiap hari karena merindukanku...," Ledek Alvi.
"Eh..gr.... Kayak kamu
nggak aja...," Seru Niken.
Alvi pun memandang Niken dengan teduh
sembari menganggukkan kepalanya.
"Sangat, tidak ada hari dimana
aku tidak merindukanmu. Karena itu, apapun yang terjadi di masa depan nanti,
kamu harus janji satu hal padaku. Jangan pernah meninggalkanku lagi...,"
Ujar Alvi.
Niken pun menatap mata teduh Alvi. Ia
menganggukkan kepala sembari berurai air mata.
"Aku berjanji selamanya aku tidak
akan pernah meninggalkan kamu lagi kecuali Tuhan yang memanggilku kembali ke
haribaannya...," Ucap Niken.
Keduanya pun tersenyum dan berpelukan.
Melepas semua kerinduan juga segala perasaan yang sekian lama mereka simpan.
Akhirnya, kebahagiaan menyertai mereka setelah begitu banyak kesulitan yang
mereka hadapi. Kini, melangkah menuju masa depan menjadi lebih mudah ketika
semua permasalahan dimasa lalu terselesaikan.
The End
Tujuh Belas
Jakarta, 3 Bulan Kemudian
Setelah menghabiskan waktu selama tiga
bulan di Amerika, Alvi akhirnya kembali ke Indonesia. Dia kembali tidak
sendiri, melaikan bersama dengan Niken. Tidak hanya itu, William bersama
keluarga kecilnya juga akan ikut ke Indonesia untuk membantu Alvi dan Niken
menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang diakibatkan oleh keluarga
Rusdiantoro dan Turano. Tapi, Will baru bisa berangkat ke Indonesia tiga hari
setelah kepergian Alvi dan Niken karena masih harus menyelesaikan beberapa urusan
di rumah sakitnya.
Kedatangan Alvi dan Niken di sambut
hangat oleh keluarga Keysnandra. Tampak Oma Mia, Papa Dana dan Mama Ratih yang
menyambut kedatangan mereka dengan senyum bahagia. Mama Ratih bahkan tak
henti-hentinya memberikan pelukan pada putrinya itu. Ia lega, melihat keadaan
Niken yang sudah terlihat baik-baik saja. Mereka pun lekas disambut dengan
banyak hidangan lezat di meja makan setelah terlebih dahulu Alvi dan Niken
diberikan kesempatan untuk meletakkan barang bawaan mereka di kamar mereka
masing-masing.
"Jadi, gimana dengan hubungan
kalian....?" tanya Dana kepada kedua putra dan putrinya memulai
percakapan.
"Baik Pa....," jawab Alvi
yang diperkuat pula dengan anggukan kepalanya oleh Niken sebagai persetujuan
jawaban Alvi.
"Jadi masalah perceraian
itu....," Oma Mia mulai membahas akar permasalahan yang semula menjadi
alasan kenapa Alvi pada akhirnya memutuskan untuk terbang ke Amerika menjemput
Niken.
"Tidak akan pernah ada perceraian
Oma. Aku dan Niken akan hidup bersama selamanya...," ucap Alvi sembari
menggenggam tangan Niken dengan lembut. Ia tersenyum lembut kepada sang istri.
"Hmm....Alvi tidak masalah?
Keadaan Niken mungkin...," Mama Ratih mulai sedikit mengungkapkan
kecemasannya. Walau bagaimanapun ia sangat menyayangi Alvi layaknya anak
kandungnya sendiri. Meskipun ia ingin lelaki itu tetap bersama dengan putrinya,
tapi ia juga tidak boleh bersikap egois. Karenanya, ia perlu menanyakan hal itu
kepada menantunya.
"Takdir tidak ada yang tahu Ma.
Memiliki Niken sebagai istri saja Alvi sangat bersyukur. Ia memberi Alvi
segalanya, bahkan sebuah keluarga yang hangat seperti Papa, Mama dan Oma.
Masalah anak, itu hanyalah bonus dari Tuhan untuk kami. Kalau kami di beri
kepercayaan itu kami akan terima, tapi jika sebaliknya kami juga akan ikhlas
menerimanya terlepas dari adanya penyakit itu atau tidak dalam diri Niken.
Karenanya, kami memutuskan untuk menjalaninya saja," jelas Alvi yang di
respon dengan anggukan kepala oleh Mama, Papa dan Oma-nya.
"Oma, Papa dan Mama tidak
keberatan bukan dengan keputusan kami berdua?" tanya Niken kemudian. Ia
meremas tangannya menyembunyikan kecemasannya.
"Kami tidak masalah Nak, apapun
keputusan kalian berdua kami akan hargai dan mendukung kalian...," Ucap
Ratih sembari menggenggam tanggan putrinya dengan lembut.
"Iya, mama-mu benar.
Lagipula Oma juga belum siap di panggil Oma Buyut...," ujar sang Oma.
"Ingat umur omah, kalau nggak di
panggil omah buyut mau di panggil apa?" Ledek Alvi.
"Oma masih muda ya Vi, gak beda
jauh tuh sama mamamu...," Ucap sang omah yang tentu saja dibalas tawa oleh
semua anggota keluarga di rumah itu.
*****
"Kamu yakin, akan menemui
Irene?" Tanya Niken ketika melihat Alvi bersiap hendak pergi. Alvi
menganggukkan kepala sebagai pengganti jawaban ia dari mulutnya.
"Aku cuman pergi selesain masalah
yang ada, nggak usah cemburu gitu..," ledek Alvi sembari memencet hidung
mancung Niken.
"Ish siapa coba yang cemburu,
nggak level cemburu sama si Irene...," Sangkal Niken.
"Yakin nggak bakal cemburu kalau
aku balikan lagi sama Irene? Nanti ada yang tiba-tiba kabur lagi nih ke
Amrik...," Goda Alvi.
"Ih.hhh....," ucap Niken
jengkel. Ia pun mencubit-cubit kecil pinggang Alvi sebagai balasan godaan
menjengkelkan yang dilakukan suaminya terhadap dirinya itu.
Alvi pun mendekat ke arah niken yang duduk
di ranjang tempat tidur. Ia berjongkok di depan Niken, mengambil tangan gadis
itu dan mengenggamnya lembut dalam pamgkuan gadis itu.
"Percaya sama aku, rasa aku ke
Irene udah bener-bener berakhir sejak saat itu. Bagiku, kamulah yang terakhir
untukku, yang ku harap bisa membersamaiku hingga tua nanti. Jadi, ada atau
tidak ada anak di antara kita,
aku tetap akan berada di sampingmu. Dan ku harap kamu juga bersedia untuk tetap
selalu di sampingku..," jelas Alvi.
Niken pun menganggukkan
kepalanya. Air mata nya pun jatuh perlahan menedengar pernyataan yang di
sampaikan oleh Alvi. Melihat wanita yang dicintainya itu meneteskan air mata,
ia menyeka air mata yang menetes di kedua pipi gadis itu.
"Sebelum kita melangkah ke masa
depan kita selesaikan masalah kita satu persatu ya, dimulai dengan Irene dan
gosip yang beredar..," ucap Alvi.
"Kamu hati-hati, Irene itu licik
ia pasti punya seribu satu alasan untuk berkelit dari kesalahan dan
kebohongannya..," ucap Niken.
Alvi pun menganggukkan kepalanya
mendengar ucapan istrinya itu.
"Kamu tenang saja aku sudah punya
bukti yang kuat atas semua perbuatannya, kali ini dia tidak akan bisa berkelit
lagi. Niken pun menganggukkan kepalanya.
Setelah menenangkan kekhawatiran
istrinya Alvi pun bergegas menuju lokasi dimana ia janji temu dengan Irene.
Perjalanan selama tiga puluh menit
itupun mengantarkan Alvi ke sebuah Cafe tempat dimana ia sering bertemu dengan
Irene dulu secara diam-diam. Hal itu dilakukannya karena dulu orang tua Alvi
tidak pernah menyetujui hubungan keduanya.
"Hai...," Sapa Irene kepada
Alvi. Ia tersenyum senang melihat kedatangan lelaki itu.
Namun Alvi hanya menatap datar wanita
di hadapannya. Ia seolah tak percaya bahwa wanita yang pernah dicintainya dulu
itu melakukan hal yang teramat keji menurutnya.
Alvi melemparkan sebuah amplop
berwarna coklat ke atas meja. Irene yang melihat hal itu mengernyitkan
keningnya penasaran dengan apa maksud Alvi memberinya amplop coklat itu.
"Apa ini?" Tanya Irene.
"Bukalah...," Titah Alvi.
Irene membuka amplop coklat itu. Ia
melihat di dalamnya terdapat banyak foto. Kemudian, ia melihat foto itu satu
per satu dan bertapa terkejutnya ia menatap foto-foto yang berada di tangannya
itu.
"In...ini...,"
Ucapnya.
"Semua itu bukti bahwa anaj tang
berada di dalam kandunganmu itu bukan anakku...," Jelas Alvi.
"In..ini nggak seperti yang kamu
pikirkan Alvi, aku visa jelasin semuanya sama kamu..," bantah Irene.
"Kamu mau mengelak apa lagi Ren.
Jika kamu lihat tangal di foto itu maka akan sama dengan hitungan tanggal di
foto usg kamu...," Jelas Alvi.
"Tap..Alvi ini benar anak kamu.
Kamu mabuk waktu itu dan...,"
"Dan kamu menjebakku. Aku sama
sekali tidak pernah menyentuhmu, bahkan saat kita masih berstatus pacaran dulu,
dan kamu tahu itu. Bahwa aku tidak akan menyetuhmu sampai kita menikah...,'
jelas Alvi final. Dan Irene pun tidak dapat berkutik. Ia hanya bisa menangis
meratapi nasibnya.
🎼🎼🎼🎼🎼
Enam Belas
Alvi yang sudah menemani istrinya yang
tertidur sehabis menangis itupun kembali ke ruang keluarga. Disana masih ada
William yang tengah duduk di sofa sembari menonton televisi. Sementara Cathreen
mungkin tengah tidur menemani Andrea yang tadi juga ikut menangis karena
melihat Aunty-nya atau Niken menangis.
"Sudah tidur...," tanya Will
pada Alvi yang kini mendaratkan bokongnya di sofa berdampingan dengan William.
"Sudah berapa lama ia mendapatkan
surat-surat ancaman itu...?" tanya Alvi.
"Sejak di Indonesia. Sebelum
akhirnya dia memutuskan untuk mengikutiku ke sini...," jelas William.
"Ken..kenapa....?"
"Ma'af Vi, aku tidak
memberitahumu sejak dulu karena Niken melarangnya. Ia bilang, lebih baik kamu
tidak tahu. Itu akan mudah untuk kamu melupakannya dan hidup bahagia..,"
jelas Will.
Alvi menggaruk gusar rambutnya.
"Bagaimana mungkin dia berpikir seperti itu?"
"Aku mengenal Niken cukup lama
dan aku tahu bahwa ia akan memberi keputusan yang rasional menurutnya meskipun
harus mengorbankan dirinya sendiri. Ia tidak ingin keluarganya yang sudah lama
tidak diketahuinya itu menderita. Kamu tahu Vi, ketika ia mengetahui perihal
keluarganya yang sebenarnya Niken sangat bahagia. Kebahagiaan yang mungkin
sudah lama tak ia rasakan setelah orangtua angkatnya yaitu Tante Selvi dan Om
Bram juga adiknya Viola meninggal dunia. Padahal, ia hanya bisa melihat
keluarganya dari jauh, ia tidak mendapatkan kasih sayang yang semestinya dari
kedua orang tua kandungnya. Tapi, ia bahagia dan ia menyembunyikan
kebahagiaannya itu dalam kebencian. Ia tidak membenci orang tuanya yang tidak
mengakuinya sebagai anak, ia hanya membenci karena memperlakukanmu sebagai alat
untuk balas dendam. " jelas William," ucap Will.
William menghela napas dan kemudian
melanjutkan ceritanya.
"Dan karena kamulah, akhirnya ia
menemukan tekadnya untuk menghentikan ayahnya. Ia belajar keras manajemen dan
segala hal tentang bisnis, meskipun ia tidak pernah menyukai bidang itu. Salah
satu hal yang sangat disukainya hanyalah bermain biola. Dan ia akan tampak
sangat ceria setiap kali memainkan benda kecil yang digesek itu. Tapi, demi
memutus kerumitan masalah keluarganya itu, ia melakukan apa yang tidak
disukainya itu. Dan kemudian hadir di tengah keluarga kandungnya sendiri meski
ia harus menyembunyikan identitasnya yang sebenarnya. Ia juga bahagia ketika
menikah denganmu, bukan tanpa alasan ia sangat menyukaimu. Aku bisa melihat
binar bahagia dari matanya dulu, setiap kali Viola menceritakan tentang kamu
kepada Niken. Namun, seolah Tuhan enggan membuatnya bahagia dalam waktu lama,
kebahagiaan itu terenggut darinya. Setelah mendapati kenyataan bahwa ia
menderita penyakit auto imun itu,"
Hening tercipta diantara keduanya.
Alvi masih terdiam mendengarkan dengan saksama cerita William tentang
istrinya.
"Lantas, kenapa Irene bisa
tahu bahwa dia menderita penyakit itu...?" Alvi pun akhirnya menanyakan
pertanyaan yang sudah sejak tadi berkelebat dalam kepalanya.
William mengangkat bahunya. "Aku
juga tidak tahu. Pasalnya, setelah didiagnosis penyakit tersebut oleh dokter di
Indonesia tiga tahun yang lalu dia tidak pernah memberitahu kepada siapapun
selain aku dan Cathreen. Bahkan Mamanya, Tante Ratih baru tahu penyakit
tersebut tiga bulan yang lalu, ketika Niken memutuskan untuk meminta cerai
darimu setelah mendengar gosip tentang kehamilan Irene,"
"Kamu sudah berusaha mencari tahu
siapa orang yang membocorkan tentang penyakit Niken itu?" tanya Alvi lagi.
William menganggukkan kepala.
"Sudah, tapi hasilnya nihil. Aku sudah bertanya pada beberapa dokter yang
ku kenal bekerja di rumah sakit tempat Niken melakukan pemeriksaan tapi
hasilnya Nihil. Mungkin, ada seseorang yang sangat berkuasa di sana yang bisa
mengakses semua informasi pribadi dengan mudah, hingga Irene bisa mengetahui
informasi tentang penyakit Niken yang seharusnya rahasia," ujar Will.
Alvi memutar otaknya mencari tahu
kemungkinan-kemungkinan orang yang sangat berkuasa tiga tahun yang lalu.
Seseorang yang berada di balik layar yang bisa membatu Irene untuk mendapatkan
informasi rahasia itu. Dan satu nama melintas di kepalanya.
"Aku tahu orang itu...,"
cetus Alvi kemudian.
"Siapa?" tanya William
penasaran.
"Siapa lagi kalau bukan Jacky,
Jacky Malik Rusdiantoro. Keluarga Rusdiantoro cukup berkuasa saat itu. Jadi ia
tentu saja bisa melakukan apapun dengan nama keluarganya untuk membantu Irene
mendapatkan informasi rahasia itu," jelas Alvi.
"Untungnya buat dia apa?"
tanya Will.
"Karena dia memiliki dendam
kepadaku. Tidak hanya dia tapi seluruh keluarganya menaruh dendam kepada
keluarga Keysnandra...," ujar Alvi.
"Jad..jadi bisa jadi
dia...,"
Alvi menganggukkan kepalanya seraya
memberi jawaban "iya" atas pertanyaan Will yang belum tuntas.
"Kemungkinan besar mereka
dalangnya. Mereka akan melakukan segala cara untuk menggoyahkan posisi Keluarga
Keynandra dalam hal apapun baik itu di bidang bisnis perusahaan atau menghancurkan
keluarga Keysnandra satu persatu. Seperti yang terjadi pada Tante Selvi dan Om
Bram yang sudah dianggap sebagai keluarga Keysnandra, juga Viola saudara kembar
Niken. Dan sekarang yang menjadi targetnya adalah Niken. Mereka berusaha untuk
membuat Niken terpuruk akan kondisinya...,"
"Iya, bisa jadi benar. Karena
saat itu pertama kalinya Niken mendapatkan surat-surat ancaman itu, ia sempat
histeris dan depresi. Karena itulah aku menyiapkannya kamar dirumahku ini
untuknya, agar ia tidak sendirian di apartemen dan membuat aku dan Cathreen
tidak bisa menjaganya saat ia kembali mendapat teror-teror itu...," jelas
Will. "Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya William.
"Aku akan menyuruh beberapa
detektif mencari tahu kebenaran dugaan kita itu serta mengumpulkan bukti-bukti
yang kuat untuk bisa memenjarakan mereka dan keluarganya," jelas Alvi.
"Ya... aku setuju...,"
"Oh, ya kamu juga punya
bukti-bukti yang sudah dikumpulkan Niken terkait dengan kematian Tante Selvi,
Om Bram dan Viola kan?" tanya Alvi.
"Iya, aku tahu dimana Niken
menyimpannya. Aku juga ikut serta membantunya mengumpulkan bukti-bukti itu jadi
sedikit banyak aku tahu. Tapi, kami menghentikan pencarian bukti-bukti itu lagi
sejak tiga tahun lalu, mengingat aku harus memprioritaskan untuk menjaga
kondisi Niken dari..,"
"Ya, aku tahu. Tidak masalah,
kita bisa melanjutkan pencarian bukti-bukti itu lagi. Terima kasih Will. Kamu
menjaga Niken yang seharusnya menjadi tugasku...," ujar Alvi.
"Tidak masalah. Niken
sahabatku, aku mengenalnya sejak kecil dan ia sudah seperti keluargaku sendiri.
Jadi, kamu tidak perlu berterima kasih kepada sesama saudara...," ujar
Will.
"Ekhm....,"
"Ya....?"
"Selain itu, aku juga minta ma'af
padamu Will...," ujar Alvi.
William mengerutkan kening, ia bingung
dan tidak mengerti maksud perkataan Alvi.
"Minta ma'af untuk..?"
"Karena pernah berpikir buruk
tentangmu. Bahwa kamu adalah selingkuhan Niken...," ujar Alvi.
Mendengar hal itu William hanya bisa
tertawa. "Ya Tuhan, kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu..?"
"Ya namanya juga....,"
"Cemburu...," goda Will.
Yang tentu saja membuat Alvi mendengus.
Sementara William masih dengan tawanya
yang tak henti-henti. Alvi akhirnya melangkahkan kaki kembali ke kamar yang
ditempati Niken di rumah Will, tanpa menghiraukan sang pemilik rumah yang masih
menertawai kebodohan pemikirannya tadi itu.
"Mau kemana? Kabur...," ujar
Will.
Alvi hanya mengedikkan bahu, acuh.
Tapi ketika Will menyuruhnya mendekat untuk memberitahukan satu rahasia tentang
Niken, mau tak mau Alvi pun kembali melangkahkan kakinya menuju Will.
"Niken tidak pernah
pacaran. Kamu satu-satunya lelaki yang ia suka. Ia tidak pernah terlibat
pergaulan bebas meskipun cukup lama tinggal di Amrik. Jadi dia
masih...,"
Alvi memotong penjelasan Will. Karena
ia tahu apa yang akan dikatakan lelaki itu kepadanya.
"Aku tahu...," ujar Alvi.
Sementara William cengo mendengar perkataan Alvi itu. Ia mengernyit bingung
kenapa lelaki itu bisa tahu padahal ia belum menyelesaikan penjelasannya.
"Karena aku orang yang pertama melakukan itu padanya...," jelas Alvi
santai dan melenggang pergi meninggalkan lelaki itu.
Sementara Will melayangkan bantal sofa
ke Alvi setelah mendengar perkataan Alvi.
"Jadi, kemari setelah kamu baru
nyampai di Amrik kamu dan Niken melakukan itu?" tanya William sembari
berteriak karena lelaki itu melenggang pergi menuju kamar Niken. Ia dapat
melihat lelaki itu hanya mengedikkan bahunya seraya menjadi jawaban atas
pertanyaan Will.
"Dasar, awalnya sok-sok an pada
nggak mau. Nyatanya lama nggak ketemu eh malah nggak tau malu langsung
melakukan itu," gerutu Will. Ia pun kemudian mematikan televisi dan menuju
ke kamarnya untuk menyusul sang istri dan anaknya yang tengah tidur siang.
🎼🎼🎼🎼🎼
Lima Belas
Seperti yang dijanjikannya kepada Alvi
kemarin, Niken membawa Alvi ke rumah William. Rumah tersebut tidak terlalu
besar, namun memiliki halaman yang cukup luas dengan rumput yang terawat dengan
rapi. Bunga-bunga di taman tersebut juga indah ditata sedemikian rupa hingga
tampak begitu mengagumkan.
Niken membunyikan bel di rumah itu.
Tak selang beberapa lama seseorang membukakan pintu rumah. Ia adalah seorang
wanita yang berusia terpaut tiga tahun di atas Niken. Ia menyambut Niken dengan
pelukan dan senyuman mengembang. Mempersilakan Niken untuk masuk ke dalam
rumahnya. Sementara Alvi yang mengikuti Niken dari belakang hanya tersenyum dan
menganggukkan kepalanya untuk menyapa.
"Siapa...?" tanya Alvi
kepada Niken dengan nada berbisik.
"Cathreen. Istri Will...,"
jawab Niken.
"Istri Will, Indo...?" tanya
Alvi lagi yang di jawab Niken dengan anggukan kepala. "Aku pikir istrinya
bule...," ujar Alvi masih dengan suara lirih agar tak terdengar sang
pemilik rumah.
"Will suka gadis lokal. Lagipula,
Will juga bukan seratus persen keturunan Amrik. Neneknya Will aja yang asli
orang Amerika," jelas Niken.
Alvi pun mengangguk-anggukkan
kepalanya seraya mengerti penjelasan dari Niken. Melihat Will, memang lelaki
itu tidak tampak seperti bule asli. Wajahnya masih mirip orang Indonesia, hanya
warna mata dan postur tubuhnya yang membedakan bahwa ia terlihat seperti orang
asing.
"Aunty Ken....," sambut
seorang gadis kecil dengan rambut keriting yang di kuncir dua. Ia berlari dan
memeluk kaki Niken. Niken pun mengambil gadia kecil itu dan menggendongnya.
"Andrea sayang, Aunty
kangen....," ujar Niken sembari menciumi gadis kecil pemilik pipi chuby
itu.
Will yang mengetahui kedatangan Niken
pun segera menyambutnya. Ia merentangkan tangan untuk memeluk Niken yang sedang
menggendong Andrea. Tapi, sebuah tatapan tajam menghentikan kebiasaan William
kepada sahabatnya itu.
"Eh...aku nggak tahu kalau kamu
bawa pawang...," ujar William terkekeh. Sementara Alvi hanya memutar bola
matanya malas. Ia memang sudah beberapa kali melihat Will di Indonesia bersama
dengan Niken. Bahkan lelaki itupun hadir ketika keduanya melangsungkan
pernikahan. Tapi, hanya sebatas itu, Alvi tidak mengenal William lebih dari itu.
Bahkan ia semula mengira bahwa Will adalah kekasih Niken, tapi apa yang
dilihatnya hari ini mampu mematahkan prasangkanya itu.
Niken sudah duduk di sofa ruang
keluarga Will begitu pula dengan Alvi dan William. Sementara Cathreen, berjalan
ke dapur untuk menyiapkan minuman dan beberapa cemilan untuk tamunya.
"Sejak kapan kamu tiba di
Amrik?" tanya William pada Alvi. Pasalnya Niken sang sahabat tidak
memberitahu apapun perihal kedatangan lelaki itu.
"Kemarin...," ujar Alvi
singkat. Sementara William yang mendengar jawaban dari lelaki itu hanya
mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kenapa tidak di ajak kemari dari
kemarin...?" tanya William lagi yang kini diajukan kepada sang sahabat.
"Eh ya quality time dulu lah.
Sudah tiga tahun nggak ketemu...," jelas Niken.
"Alah..sok-sok an kamu quality
time, kangen juga kan nggak ketemu dia. Disuruh pulang nggak mau, jadi emang
pinginnya di jemput ya...," ledek Will kepada Niken. Sementara Niken yang
mendengar ledekan dari sahabatnya itu hanya cemberut. Berbeda dengan Alvi yang
tersenyum, ia dapat melihat semburat merah di pipi Niken setelah mendapat
ledekan dari Will.
"Ya, namanya juga wanita Will,
bilangnya nggak mau tapi sebenarnya mau kan...," Alvi menambahkan
pernyataan ejekan Will kepada Niken tadi yang tentu saja membuat Niken lebih
cemberut.
"So...kalian....?" William
kembali bertanya, tapi ia tak melanjutkan pertanyaannya karena kedua orang yang
tengah duduk di hadapannya itu telah menganggukkan kepalanya untuk memberi
jawaban atas pertanyaan Will yang belum tuntas tersebut.
"Kami akan kembali ke
Indo...," ujar Alvi.
"Itu bagus.. bawa aja dia nih,
biar nggak ngerusuh aja disini...," ujar Will.
"Ih...siapa yang ngerusuhin kamu
sih Will...," ucap Niken tidak terima dengan pernyataan sang sahabat.
"Lah apa namanya tidak ngerusuh.
Tiap hari datang cuman untuk memonopoli Cathreen buat curhat, kadang
nangis-nangis karena kangen sama lakinya...," ucap Will yang tentu saja
membuat Niken bersungut karena membongkar rahasianya di depan Alvi.
"Makanya, kalau kangen ya samperin. Jangan dipendem sendiri aja...,"
tambah Will.
"Ih...Will mah....,"
Niken tampak malu karena rahasianya yang selama ini selalu merindukan Alvi
terbongkar di depan lelaki itu.
"Sudah..sudah Will berhenti
meledek Niken, tuh lihat pipinya udah merah kayak kepiting rebus," bela
Cathreen yang datang dengan membawa minuman dan cemilan. Ia pun kemudian
mendudukkan dirinya tepat disamping William, sang suami.
"Eh, bener kan Yang, tiga bulan
yang lalu dia datang nangis-nangis minta cerai aja dari Alvi karena cemburu...,"
ucap William yang sontak mendapatkan pelototan tajam baik dari Niken maupun
Cathreen. "Ups...sorry keceplosan..," ujar William sembari menggaruk
tengkuknya yang tidak gatal.
"Eh...cemburu kenapa?" tanya
Alvi kepada Niken, namun Niken hanya menundukkan kepalanya sembari memeluk
Andrea yang ada di pangkuannya. Tak mendapatkan jawaban dari sang istri, ia pun
kembali mengajukan pertanyaan itu kepada William dan Cathreen.
"Apalagi kalau bukan scandal kamu
dengan sang model terkenal "Irene Turano"," jelas Will.
Alvi menghirup udara banyak-banyak.
Kemudian ia mengarahkan pandangannya pada wanita yang duduk disampingnya itu.
"Kamu percaya gosip yang tidak
mendasar itu? Hubungan aku sama Irene sudah berakhir lama dan kamu sendiri tahu
tentang itu. Karena sejak kamu memberi tahu kebenaran tentang Irene dulu dan
aku membuktikan kebenaran tentang ucapanmu, hubungan diantara aku dan Irene
berakhir saat itu juga. Jadi, nggak mungkin banget kalau aku yang telah
menghamili Irene...," jelas Alvi.
Niken yang mendengar penjelasan Alvi
pun menganggukkan kepalanya. Ia memang tidak mempercayai apa yang dimuat di
berita gosip itu. Tapi, tetap saja pemikiran-pemikiran buruk itu bersarang di
kepala cantiknya.
"Lantas kenapa kamu masih
meragukanku...?" tanya Alvi.
Niken lantas menyerahkan Andrea
kepada Cathreen setelah memberi penjelasan pada gadis kecil itu yang telah
duduk nyaman dipangkuannya sedari tadi. Ia berjalan menuju ke sebuah kamar di
rumah William. Ia yang memang sering menginap di rumah William memiliki kamar
tersendiri yang disediakan oleh sang pemilik rumah untuk gadis itu.
Setelah beberapa menit ia pun kembali
dengan membawakan sebuah kardus kecil. Setelah sampai ditempat duduknya semula
ia menyerahkan kardus kecil itu kepada Alvi ia kembali menundukkan kepalanya.
Tak berani menatap wajah lelaki itu.
Alvi mengernyitkan keningnya, menerima
kardus kecil yang diberikan oleh Niken. Perlahan-lahan ia membuka tutup kardus
itu. Dan ia terkejut mendapati apa yang ada di dalamnya. Disana banyak sekali
foto dirinya dan Irene. Dan foto-foto itu banyak yang foto lama, yang baru
hanya beberapa dan itu tampaknya di foto dengan tidak begitu jelas karena
mungkin diambil dari jarak yang jauh.
"In..ini.....?"
"Irene yang mengirimkan
surat-surat ancaman dan foto-foto itu pada Niken...," jelas Cathreen.
"Jadi alasan kamu tidak kembali
juga karena ancaman-ancaman ini...?" tanya Alvi yang di jawab anggukan
oleh Niken.
"Ya, Tuhan...,"ujar Alvi.
Kemudian Alvi pun merengkuh Niken
dalam pelukannya. Gadis yang sudah tak gadis lagi itu meneteskan air matanya.
Isak tangis begitu memilukan terdengar dari Niken. Dan Alvi hanya bisa mengusap
punggung gemetar gadis yang ada di dalam pelukannya itu.
🎼🎼🎼🎼🎼
Minggu, 16 Oktober 2022
Empat Belas
Alvi menatap gadis yang tidur di
sampingnya. Ah, mungkin bukan gadis lagi sebutannya sekarang karena apa yang
sudah dilakukannya pada Niken beberapa saat yang lalu. Ia melihat Niken
terlelap dalam pelukannya dirapikannya anak-anak rambut yang menutupi wajah
Niken. Ia juga berkali-kali mencium kening Niken, hingga Niken merasa tidurnya
terusik dan akhirnya ia pun bangun.
"Kenapa tidak tidur?" ucap
Niken dengan suara seraknya khas bangun tidur.
Alvi mendekat ke arah Niken. Ia
berbisik lirih di telinga Niken. "Pengen lagi...," ujarnya.
Niken sontak melototkan matanya. Ia
tidak percaya dengan apa yang Alvi katakan barusan. Bisa-bisanya lelaki itu
mengatakan hal seperti itu.
"Dasar mesum...," ujar Niken
sembari memukul dada bidang Alvi. Alvi terkekeh melihat wajah Niken yang
dipenuhi oleh semburat merah.
"Kamu cantik kalau lagi blushing....,"
ujar Alvi sembari mengusap pipi Niken dengan lembut. Mendapat perlakuan seperti
itu dari suaminya tentu saja membuat Niken semakin malu.
"Bukannya aku menolak, tapi bener
deh aku capek. Lagian ini yang pertama dan...," ucapan Niken terhenti oleh
perkataan Alvi kemudian.
"Memangnya aku mau apa sayang.
Kamu tuh yang pikirannya mesum...," ucap Alvi sembari menjitak kepala
Niken, namun dengan penuh kelembutan.
"Eh...aku pikir kamu....,"
"Aku nggak akan sekejam itu minta
lagi sama kamu di saat pertama kalinya buat kamu...," ucap Alvi yang tentu
saja membuat Niken kembali bersemu merah karena malu. Ia malu akan pemikirannya
sendiri. Bisa-bisanya dia berpikir kalau Alvi ingin...ah lupakan, batin Niken.
Alvi mencium kening Niken dengan
lembut. Ia pun membelai rambut istrinya dengan lembut, sementara Niken
menyembunyikan wajah malunya atas pemikirannya tadi ke dalam pelukan Alvi.
"Terima kasih karena sudah
menjaganya untuk aku...," ujar Alvi kemudian.
Niken mendongak melihat wajah
sumringah suaminya. Suami? Bahkan mengatakan kata itu saja sudah membuat Niken
merasa malu.
"Kamu suami aku, tentu saja aku
menjaganya untukmu. Kenapa harus berterima kasih ?" ucapnya yang masih
bingung kenapa suaminya malah berterima kasih atas apa yang menjadi
kewajibannya sebagai seorang istri.
"Tentu saja aku harus berterima
kasih kepada istriku yang cantik ini. Hidup di negeri orang terlebih dengan
budaya yang sangat bebas seperti ini, tapi masih bisa menjaga diri dengan baik
tentu aku harus mengapresiasi hal itu bukan?" ujarnya dengan nada menggoda
yang tentu saja membuat Niken menjadi lebih malu lagi.
Kemudian sebuah pemikiran muncul
ketika Alvi pertama kali datang ke apartemen Niken beberapa waktu yang
lalu.
"Eh, tapi kamu tidak menyambut
tamu kamu seperti saat kamu menyambutku tadi bukan?" tanya Alvi.
Niken memukul kecil dada Alvi.
"Sembarangan mana mungkin....,"
"Buktinya tadi....,"
"Tidak ada yang bertamu sepagi
itu kecuali kamu. Tentu saja aku baru bangun tidur tadi, makanya....,"
Niken tak meneruskan kata-katanya karena ia malu mengingat bahwa ia masih
mengenakan gaun tidur tipis ketika ia membuka pintu apartemen untuk Alvi.
"Bahkan Will juga...?"
"Tentu. Will tidak pernah
berkunjung tanpa pemberitahuan. Dia pasti akan memberitahu dulu sebelum
datang...,"ucap Niken. Alvi mengerutkan kening, mendengar penjelasan Niken
meskipun Niken tidak pernah menyambut Will seperti ketika ia menyambut dirinya
tadi, tapi tetap saja ia mengetahui Will sering ke apartemen Niken.
Melihat perubahan raut wajah suaminya
itu Niken pun tersenyum simpul. Ia tahu lelaki yang sah menjadi suaminya itu
tengah cemburu.
"Nggak udah cemburu, Will nggak
pernah kesini sendirian. Ia selalu membawa Catreen dan Andrea kesini...,"
jelas Niken.
"Ekhem....siapa yang
cemburu....," ucap Alvi menyembunyikan rasa cemburunya dibalik wajah
datarnya. Niken hanya terkekeh melihat kelakuan suaminya itu, lelaki dengan
semua rasa gengsinya, pikirnya.
"Catreen dan Andrea, siapa?"
tanya Alvi kemudian, mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
"Catreen, istri Will dan Andrea putri
kecil mereka. Will dan Catreen sering menitipkan Baby An disini kalau mereka
sedang ingin quality time...," jelas Niken.
"Orang tua yang egois.
Masak ingin berduaan saja dan meninggalkan anaknya sama kamu," gerutu
Alvi.
Niken meluruskan kening Alvi yang
berkerut dengan jemari tangannya. Lelaki itu mengernyitkan kening sembari
menggerutu.
"Bukan egois sayang. Terkadang
mereka juga butuh waktu untuk berdua agar hubungan diantara kedua semakin erat.
Terkadang bukan hanya untuk bersenang-senang saja, namun untuk menyelesaikan
suatu persilisihan atau permasalah apapun. Mereka hanya tidak ingin anak mereka
berpikir macam-macam tentang orang tua mereka. Karena itu kadang mereka
menitipkan buah hati mereka kepada beberapa orang yang mereka percayai sanggup untuk
menjaga anak mereka. Seperti Will dan Catreen yang mempercayakan Andrea
padaku," jelas Niken panjang lebar.
"Kamu tidak kesulitan menjaga
putri mereka siapa tadi namanya Andrea ya...?" Tanya Alvi yang dijawab
dengan anggukan kepala oleh Niken.
"Tidak sama sekali. Andrea gadis
kecil yang lucu. Ia tidak pernah merepotkanku sama sekali. Malah terkadang aku
terbantu dengan keberadaannya....," ujar Niken.
"Aku tidak sabar jadi ingin
ketemu Andrea yang kamu maksud itu...,"
"Tentu, besok aku bisa mengajak
kamu ke rumah Will...," ujar Niken. Dan Alvi pun menganggukkan kepala
sebagai pertanda persetujuannya akan usul Niken tersebut.
"Lantas, apa rencana kita hari
ini?" tanya Niken.
"Quality time....," sahut
Alvi dengan menarik turun kan alisnya.
"Hmm..dasar mesum...," ucap
Niken.
Dan Alvi hanya bisa terkekeh melihat
tingkah Niken yang terkesan malu-malu tersebut.
Keduanya saling pandang, dan
keheningan tercipta setelahnya. Namun kemudian terdengar suara yang membuat
keduanya tertawa bersama.
Kruyuk...kryuk....
"Hahahaha....," tawa
keduanya.
"Sepertinya kita perlu mengisi
tenaga dulu sebelum bertempur kembali," ucap Alvi dengan nada menggoda.
Sementara Niken hanya tersenyum malu mendengar ucapan Alvi yang terkesan
vulgar.
"Ayo mandi bersama...," ujar
Alvi kembali masih dengan nada menggoda.
"Ish...dasar mesum. Mas dulu sana
yang mandi...," ucap Niken canggung.
"Mas....," ucap Alvi memberi
penekanan dari perkataan Niken tadi. Niken yang menyadari sebutan yang ia buat
untuk memanggil Alvi pun menunduk malu.
"Aku suka panggilan
itu.."Mas"....," ujarnya sembari menoel pipi Niken yang menunduk
malu. Ia pun kemudian beranjak menuju kamar mandi.
Niken pun membereskan kamar yang
berantakan akibat ulah mereka berdua beberapa saat yang lalu. Mengingat semua
kejadian itu tentu saja membuat semburat merah tak henti nampak di pipi Niken.
Usai membersihkan semua kekacauan di kamarnya Niken menuju ruang tamu untuk
mengambil koper Alvi. Ia menyiapkan pakaian ganti untuk Alvi di atas ranjang,
sementara pakaian Alvi lainnya ia tata rapi di dalam lemari tepat disamping
baju-baju miliknya.
"Mas, pakaiannya ada di ranjang.
Aku tinggal ke dapur dulu untuk menyiapkan makanan," ujarnya. Yang
langsung mendapat sahutan "ya" dari seseorang yang tengah berada di
kamar mandi tersebut.
Niken lekas menuju dapur untuk
menyiapkan makanan sembari menunggu gilirannya mandi usai Alvi. Tak lama
bergulat di dapur ia pun selesai menyiapkan makanan untuk mereka berdua.
Sepiring omelet dan segelas kopi untuk Alvi serta secangkir susu hangat untuk dirinya
sendiri sudah tertata rapi di atas meja makan.
🎼🎼🎼🎼🎼

