Kamis, 24 Oktober 2019

Sebelas

Diposting oleh Khudaifa Sari di Oktober 24, 2019 0 komentar

Panti Asuhan Nirmala”
       Enam bulan setelah kejadian itu, kejadian dimana Alvi mengetahui kebenaran tentang identitas dirinya, akhirnya Alvi berada di sini sekarang. Tempat dimana ia pernah di pungut oleh Dana dan kemudian menjadi anak dari lelaki paruh baya itu. Setelah semua keraguan yang ia rasa hilang, akhirnya ia melakukan hal sebagaimana dikatakan oleh gadis itu. “Ikuti kata hatimu”, dan itulah yang Alvi lakukan sekarang. Ia akan mencari tahu siapa orang tua kandungnya, meskipun ia tidak bisa menemuinya lagi di dunia ini, tapi paling tidak Alvi tahu nama dan rupa dari orang tuanya meski hanya melalui sebuah foto lama yang mungkin masih disimpan oleh Ibu Panti.
       Alvi melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam panti. Di dalam sana terdapat halaman yang luas dan anak-anak kecil yang berlarian kesana-kemari. Mereka tampak sangat bahagia, seolah tak ada beban apapun di wajah ceria mereka.Ada yang bermain ayunan, jungkat jungkit dan bahkan ada yang jahil dengan mengusili teman-temannya.Alvi semakin melangkahkan kakinya untuk maju mencari ruangan Ibu Panti. Namun, anak-anak kecil disekitarnya yang menyadari bahwa ada seseorang asing yang datang memperhatikannya dengan raut wajah imut mereka. Hingga kemudian mereka semua pun berteriak, meneriakkan satu nama.
       “Kak Alvviiiiiiiiiii…………..,” ujar anak-anak polos itu.
       Alvi yang terkejut mendengar namanya di panggil secara serempak oleh anak-anak di panti itu, mengerutkan keningnya.Ia tak mengerti, kenapa anak-anak yang tidak pernah ditemuinya itu memanggil namanya. Dan bahkan anak-anak itu berlarian mengerumuninya, seolah sudah sangat akrab dengannya.
       “Akhirnya loe datang juga……,” ujar seorang gadis.
       “Loe…..?” ucap Alvi dengan tatapan penuh tanya kepada gadis itu. Namun, gadis itu tak memberikan jawaban apapun atas isyarat pertanyaannya itu.Ia hanya mengedikkan bahu dan kemudian tersenyum sembari mengajak ia dan anak-anak yang lain masuk ke dalam rumah.
       Alvi menyalami Ibu-Ibu Panti yang menyambut kedatangannya. Ibu Panti yang tahu akan maksud kedatangan Alvi, mempersilakan Alvi untuk masuk ke ruang kerjanya sementara anak-anak panti yang semula mengikutinya bermain bersama dengan gadis yang tadi mengajak mereka masuk ke dalam rumah.
*****

Sepuluh

Diposting oleh Khudaifa Sari di Oktober 24, 2019 0 komentar

          Beberapa bulan ini Alvi sibuk mengurusi semua masalah perusahaan keluarga Dana. Ia bahkan sampai lupa makan maupun istirahat. Hari-harinya hanya dihabiskan untuk menyelesaikan kuliahnya dan mengurusi perusahaan. Alvi tidak lagi sempat untuk bermain-main lagi sepreti dulu, ia tidak lagi menyusup untuk kabur dari bodyguard-bodyguardnya hanya untuk bisa menghabiskan waktu bersama dengan kedua sahabatnya Fandy dan Bagas. Dan kini, seperti biasa meskipun sudah pulang dari kantor, Alvi masih berada di depan meja kerja Papanya di rumah. Ia menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum selesai. Dana yang melihat antusiasme Alvi untuk menggantikannya mengurus perusahaan pun senang, terlebih kini ia bisa lebih fokus dengan kesembuhan Ratih, istrinya.
         Namun, melihat Alvi yang terlalu keras bekerja ia pun merasa cemas. Walau bagaimanapun meskipun tidak ada hubungan darah diantara mereka Dana sangat menyayangi Alvi seperti anaknya sendiri. Dan kini, putranya itu tengah salah paham terhadapnya, tidak hanya putranya tapi juga putri kandungnya yang tinggal satu-satunya. Dana tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kebenaran yang ada. Ia terlalu melukai kedua anak kesayangannya itu, dan apakah mungkin mereka percaya dengan semua penjelasannya nanti? Tapi, ia memutuskan untuk melakukan tindakan yang benar kali ini, ia akan menjelaskan semua yang terjadi kepada putranya itu lebih dulu, terlepas dari percaya atau tidaknya putranya itu kepadanya.
         “Vi...,” ucap Dana.
         Alvi yang mendengar seseorang memanggilnya pun mengalihkan pandangannya dari leptop di hadapannya ke arah seseorang yang memanggilnya itu yang tidak lain adalah Dana, Papanya. Alvi masih menyimpan rasa marah pada lelaki separuh baya itu, tapi ia juga tidak bisa membencinya. Walau bagaimanapun lelaki itu adalah orang tuanya yang membesarkannya sedari kecil dan memberikan kasih sayangnya, meski kerap kali ia terlalu keras dalam mendidik dirinya. Bagi Alvi, Dana tetap orang tuanya meskipun tidak ada hubungan darah diantara keduanya.
         “Iya,,,” ucap Alvi.

Sembilan

Diposting oleh Khudaifa Sari di Oktober 24, 2019 0 komentar

        Matahari mulai meninggi dan cahayanya membuat Niken harus membuka matanya karena silaunya. Namun, ketika ia mulai terbangun ia merasakan ada sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya. Ketika ia mulai membuka matanya betapa ia terkejut bahwa wajahnya kini berada dalam jarak yang cukup dekat dengan Alvi. Ia yang kesadarannya kini telah kembali kemudian menendang tubuh lelaki itu.
       “Arrgghhhh…..,” teriak Niken.
       Alvi yang mendapat dorongan dan mendengar teriakan Niken pun segera bangun dari posisi jatuhnya.
       “Ada apaan sih Ken….?” Tanya Alvi dengan setengah kesadaran.
       “Loe..ngapain peluk-peluk gue….,”
       “Oh itu….,” ucap Alvi singkat tanpa member penjelasan dan kemudian ia kembali ke tempat tidur untuk tidur kembali. Namun, Niken mengguncang tubuhnya.
       “Eh..malah tidur lagi. Beri penjelasan kenapa gue bisa tidur di pelukan loe…?” ucap Niken.
       “Ish…loe tuh ya.Gak ada penjelasan, gue cuman pingin meluk loe itu aja, titik.Dan sekarang biarkan gue tidur lagi,” ucap Alvi.
       “Ihhh…dasar yaloe, kemarin loe udah nyuri ciuman gue dan sekarang loe tidur meluk-meluk gue.Apa jangan-jangan ada yang salah dengan otak loe ya Vi karena masalah ini?” duga Niken.
       “Astaga Niken, gue mau tidur lagi loe jangan ganggu gue dengan pikiran aneh loe itu. Lagian loe itu kan udah jadi istri gue, jadi wajar kan kalau gue ngelakuin itu. Untung aja gue cuman ngelakuin itu dan nggak minta hak gue sebagai suami ke loe…,” seru Alvi.
       Niken yang sadar akan kebenaran perkataan Alvi pun manggut-manggut. Tapi setelah ia mendengar hak Alvi sebagai suami ia malu dan segera berlari menuju kamar mandi, karena dia takut bahwa lelaki itu akan beneran meminta hak nya pada dirinya. Selepas kepergian Niken, Alvi hanya senyum-senyum sendiri melihat wajah Niken yang memerah karena perkataannya.Ia kini memiliki senjata ampuh untuk menghadapi gadis itu agar tidak merecoki dirinya.
*****

Delapan

Diposting oleh Khudaifa Sari di Oktober 24, 2019 0 komentar

         Keheningan terjadi di antara keduanya.Mereka duduk berdua dengan arah pandang menatap tepi pantai.Botol-botol, minuman kaleng sudah banyak yang kosong, karena keduanya hanya asyik minum dan berkelana dengan pikirannya masing-masing.Hingga akhirnya Alvi angkat bicara untuk memecah keheningan itu.
         “Ceritakan ke gue semua kebenarannya tanpa terkecuali…,” ucap Alvi.
         Niken menatap wajah lelaki yang duduk di sampingnya  itu. Lelaki itu bertanya tanpa memandang ke arahnya.Dan Niken pun tahu, bahwa lelaki itu mungkin masih memendam amarahnya.Dan akhirnya detik berikutnya dia pun mulai menceritakan semua hal pada Alvi.
         “Gue sebenarnya gak tahu harus memulai cerita ini dari mana.Karena cerita ini sungguh sangat rumit dan dulu aku menghabiskan begitu banyak waktuku hanya untuk mencari benang merah dari semua permasalahan ini,” ucap Niken sebagai pembuka ceritanya.
         “Semua ini berawal dari cerita lama dimana kakek, nenek loe dan kakek nenek gue adalah bersahabat.Dan benar adanya memang tentang perjodohan di antara keluarga kita.Tapi, dulu yang di jodohkan adalah Tante Selvi dengan Papa Dana. Papa sangat mencintai Tante Selvi, tapi tidak dengan Tante Selvi, dia mencintai lelaki lain. Hingga akhirnya Tante Selvi memilih pergi meninggalkan Papa Dana dan menikah dengan Om Bram, sementara Papa Dana akhirnya menikah dengan Mama Ratih,” jelas Niken.

Tujuh

Diposting oleh Khudaifa Sari di Oktober 24, 2019 0 komentar

       Hingga hari mulai malam Niken masih menceritakan apa yang ingin di ketahui oleh Alvi. Dan Alvi pun masih setia mendengarkan cerita Niken.
       “Orang tua gue adalah salah satu artis terkenal di perusahaan bokap loe.Papa gue seorang composer lagu “Bramasta Prasetyo”, dan ibu gue adalah pemain biola terkenal “Selvi Gracella Moudy”. Loe pernah dengar kan?” tanya Niken yang langsung di jawabi anggukan oleh Alvi. Menurut kabar yang beredar orang tua gue meninggal karena kecelakaan.Tapi sebenarnya mereka meninggal bukan karena itu. Mereka meninggal karena di bunuh…,”
       Alvi terkejut mendengar penuturan Niken.
       “Kenapa loe berpikiran seperti itu?” tanya Alvi.
       “Gue tahu, dari pesan-pesan yang dikirimkan oleh saudara kembar gue. Saudara gue sering ngirim fax ke gue waktu gue di LA dan menceritakan semua yang terjadi di sini termasuk dengan terror dan ancaman-ancaman yang di terima oleh beberapa orang yang membenci orang tua gue..,”
       “Tapi, bagaimana mungkin mereka bisa tidak tahu kalau loe juga anak mereka? Bukankah fax-fax yang di kirimkan saudara loe ke loe bisa melacak keberadaan loe?” tanya Alvi dengan kening berkerutnya pertanda dia sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada gadis yang kini berada di hadapannya itu.

Enam

Diposting oleh Khudaifa Sari di Oktober 24, 2019 0 komentar

          Pesta belum usai dan Alvi berjalan keluar dari ballroom hotel setelah mendapat telfon dari seseorang di seberang sana. Dia segera bergegas menemui seseorang yang tengah menelfonnya itu.Alvi memarkirkan mobilnya di sebuah café dan seseorang melambaikan tangannya ketika Alvi tengah masuk café itu.
       “Oh, Vin…sorry gue agak lama,” ucap seseorang yang bernama Calvin itu.
       “Iya, gue maklum. Loe kan pengantin baru, hehe… Sorry gue tadi gak sempet dateng,”
       “Ya, gak masalah…,”
       “Tadinya gue pikir besok aja gue mau ngasih tahu loe karena hari ini adalah hari pernikahan loe, dan rasanya gak etis banget kalau gue harus menculik pengantin prianya. Tapi, masalahnya gue gak bisa lama-lama karena malemini jugague harus terbang ke Canada,”
       “Ya, gak masalah. Ngomong-ngomong info apa yang loe dapet tentang gadis itu?” tanya Alvi pada Calvin.
       Calvin menyerahkan sebuah dokumen yang agak tebal kepada Alvi.Dan Alvi membaca satu per satu halaman dokumen itu. Dan dia begitu terkejut ketika melihat isi di halaman ke lima dokumen tersebut.
       “Ini……?”tanya Alvi.
       “Ya, itu informasi tentang istri loe yang sebenarnya,”
       “Apa data-data ini akurat?” tanya Alvi lagi seolah tak percaya dengan dokumen yang tengah di bacanya itu.
       “Ya, tentu saja. Loe tahu kan gue ini professional, jadi gue gak mungkin ngasih data ke loe yang gak bener tentang dia,”
       “Tapi…ini….?”
       “Ya, loe nggak percaya kan? Begitu pula dengan gue sebelumnya juga gak percaya Vi. Tapi, setelah gue cari informasi sampai ke LA gue baru mendapatkan kebenaran itu..,” jelas Calvin.
       Alvi masih diam tercenggang dengan dokumen ditangannya itu.Matanya terpaku membaca lembar demi lembar dokumen itu.Dan seolah tahu bahwa Alvi belum dapat menerima kebenaran dokumen itu, Calvin mulai angkat bicara.
       “Ma’af Vi, gue gak bisa lama-lama.Gue harus segera pergi,” ucap Calvin dan di jawabi anggukan oleh Alvi.
       Alvi melajukan mobilnya ke area tepi pantai.Di hirupnya udara di tepi pantai tersebut seraya mencari ketenangan.
       “Kenapa kamu berbohong Ken….?” Batin Alvi.
*****

Lima

Diposting oleh Khudaifa Sari di Oktober 24, 2019 0 komentar

           Alvi menunggu dengan bosan di ruang tunggu. Bajunya masih belum disiapkan oleh para perancang itu. Sementara itu, Niken mencoba baju pengantinnya lebih dulu dari Alvi. Ketika dia telah mencobanya dengan di dandani secara sederhana oleh para penata rias itu membuat Niken tampil beda dari biasanya. Dia terlihat begitu cantik meski dalam dandan sederhana. Baju pengantin berwarna putih itu indah sekali, dan membuat kecantikan yang sebenarnya di sembunyikannya lewat topeng ketomboyannya kini terpancar dengan jelas. Dan bahkan aura kecantikannya itu di akui sendiri oleh Alvi.
       Melihat Niken berdiri di hadapannya dengan gaun pengantin yang membalutnya membuat Alvi tercenggang tak percaya melihat mahluk cantik di hadapannya. Berkali-kali asisten perancang busana itu memanggilnya tapi tak di gubrisnya. Dia mungkin tak menyadari berapa kali dan lamanya asisten perancang itu berdiri di samping tempat duduknya dengan menenteng jas ditangannya sembari meneriakkan nama Alvi berkali-kali. Dia baru terlonjak kaget dan membuyarkan fokus matanya yang sendari tadi memandang Niken, ketika seseorang menendang kakinya. Rasa kesakitannya itu terlihat jelas ketika dia memegang kakinya dan merasakan kenyeriannya dengan mengeryitkan dahinya.
“Aw... Sakit tau...,”
“Habis, loe ngapain aja sih. Kasian tuh dari tadi megangin baju loe dan manggil-manggil nama loe dari tadi,” ucap Niken sembari menunjuk asisten perancang yang masih berdiri di samping Alvi.
“Oh, sorry... gue...,” ucapnya pada asisten itu.

Empat

Diposting oleh Khudaifa Sari di Oktober 24, 2019 0 komentar

    Berita tentang pernikahan Alvi dengan Niken sudah tersebar di seantero kampus. Dan tentu saja berita itu juga sampai ke telinga Irene. Irene berjalan mencari-cari dimana Alvi berada. Ditemuinya lelaki yang kini tengah menatap keluar jendela lantai tiga ruang kelasnya itu. Semua temannya seolah tahu apa yang akan terjadi kemudian dan mereka meninggalkan Alvi dan Irene berdua saja di dalam kelas.
“Ada apa loe kesini...?” tanyaAlvi.
“Ada apa? Loe bilang ada apa? Loe amnesia ya, atau loe pikir gue gadis bodoh yang bisa loe bohongin gitu aja...,” cercahnya.
“Oh, loe sudah tahu...,”
“Dengan gampangnya loe hanya ngomong hal itu ke gue? Gue butuh penjelasan dari loe...,”
“Penjelasan apa lagi yang loe butuhin. Bukannya loe udah tahu lebih dulu tentang hal ini sebelumnya. Dan gue juga sudah beritahu loe sejak awal kalau gue mau di jodohin,”
“Tapi.. loe apa gak bisa menolak keinginan kedua orang tua loe...,”
“Gue gak punya jalan lain. Bukannya loe sendiri yang nolak untuk nikah dengan gue? Jadi, selain menerima hal ini gue gak bisa lakuin apa-apa lagi...,”
“Jadi, sampai akhir loe akan tetap bertahan menjadi boneka kedua orang tua loe yang berpikiran kolot itu...?”
“Jangan pernah mengatai kedua orang tuaku ataupun menjelek-jelekkan keluargaku. Sekalipun aku membenci mereka, mereka tetap orang tua gue, tetap keluarga gue..,” ucap Alvi kali ini dengan nada meninggi.
“Loe... Loe udah berubah Vi...,”
“Gue? Berubah? Bukannya loe yang sudah berubah. Atau sejak awal memang itu sifat dan tujuan loe,” ucap Alvi pada Irene sembari meninggalkan gadis itu di dalam kelas.
       Irene mencoba mencerna perkataan terakhir Alvi karena dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh lelaki itu yang megatakan sifatnya berubah dan bahkan lelaki itu jua menyebutkan tujuannya yang sebenarnya. Dia berpikir sejenak dan menemukan sesuatu dalam pikirnya.
“Bulshitttt apa dia sudah tahu......,” desahnya.
*****

Tiga

Diposting oleh Khudaifa Sari di Oktober 24, 2019 0 komentar

    Niken menata semua barang-barangnya dalam kamarnya yang baru. Kamar itu memang cukup besar bahkan mungkin seluas lapangan sepak bola, tapi mengapa dia masih saja tak merasa nyaman di rumah itu. Bukan saja karena dirinya merasa asing dengan tempat itu, tapi karena dia membayangkan tekanan apa saja yang akan didapatkannya nanti setelah dia memutuskan untuk menyetujui usul tersebut. Dibukanya jendela kamarnya yang menghadap tepat kearah taman. Taman itu begitu indah, terdapat bunga mawar, anggrek, anyelir dan bunga-bunga lainnya yang tertata rapi di taman itu. Satu hal yang paling disukainya dari semua bunga-bunga itu adalah bunga lili. Dibukanya pintu kamarnya dan hendak di nikmatinya hamparan bunga lili di taman itu. Tapi, tiba-tiba seseorang menghentikan langkahnya sejenak karena mengajaknya berbicara.
“Loe, kok bisa ada disini..?”
“Emangnya kenapa kalau gue ada disini. Bukannya minggu depan kita udah harus bertunangan,”
“Kita? Mimpi loe. Gue gak pernah mau nyetujui usul tersebut. Jangan harap loe bisa bertunangan dengan gue. Jadi sekarang sebaiknya loe pergi dari sini..,” bentak Alvi sembari menarik tangan Niken untuk segera meninggalkan rumahnya.
       Namun, usahanya gagal karena kedatangan seseorang. Niken mengangguk menghormat ketika mendapati orang itu mendekat ke arah mereka berdua. Melihat siapa yang datang, sontak membuat Alvi bergegas untuk melepaskan cengkeraman tangannya dari pergelangan tangan Niken.
“Kenapa?Kamu mau ngusir dia..?” tanya papanya.
“Tapi pa... Aku gak pernah menyetujui pertunangan itu,”

Dua

Diposting oleh Khudaifa Sari di Oktober 24, 2019 0 komentar

     Rasa penasaran membuat Alvi dengan terpaksa harus nemuin gadis itu. Dia masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya dari oma dan ortunya, bahwa tuh gadis tak menolak perjodohan dengan dirinya. Bahkan tuh gadis secara gamlang menyetujui perjodohan itu dengan menyebutkan secarajelas alasan dari keputusannya itu. Yang anehnya lagi adalah oma dan papanya yang malah semakin mendukung acara perjodohan itu meskipun tahu maksud dari gadis itu hingga mau menerima perjodohan.
“Oma... memang benar-benar udah gila. Mana mungkin dia tetap melanjutkan perjodohan meskipun dia tahu bahwa gadis itu punya maksud yang tidak baik. Bagi gue oma gak masalah, tapi loe tahu papa gue malah ngedukung oma gue.. gila nggak sih...,” jelas Alvi pada kedua rekannya yang menemaninya mencari gadis yang di jodohkannya itu.
       Kedua temannya yang mendengar Alvi menggerutu tentang sikap oma dan papanya itu hanya manggut-manggut menyetujui semua perkataan Alvi tanpa bisa berkata apa-apa. Mereka tak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk mengeluarkan sohibnya itu dari masalah perjodohannya itu. Bagi mereka berdua, membantu Alvi dengan menentang kehendak oma dan papanya sama saja seperti menggali kuburan mereka sendiri. Bahkan lebih dari itu keluarga mereka pun  bisa kena imbasnya karena jika sedikit saja membuat papa Alvi tersinggung dalam hitungan detik, papa Alvi langsung bisa mengeluarkan kedua orang tua mereka dari kerja sama dengan perusahaan K-Company. Karena bisa dibilang baik perusahaan papa Fandy maupun perusahaan papa Bagas keduanya bisa berjalan dengan baik karena kerja sama dengan perusahaan K-Company yang digawangi oleh papa Alvi.
*****

Satu

Diposting oleh Khudaifa Sari di Oktober 24, 2019 0 komentar

    Alvi dan kedua kawannya tengah mengawasi fakultas seni budaya yang berada di samping fakultasnya. Kali ini tujuannya bukan untuk mencuri pandang ke arah kekasihnya yang biasanya berlatih di ruang musik. Tapi, tujuannya kali ini lain dari biasanya, dia seolah mencari sosok orang lain dan bukannya sosok Irene yang biasanya kerap di carinya. Kedua temannya yang semula mengerti tujuan Alvi mengamati fakultas seni budaya kini mereka kebingungan bukan main di buatnya.
“Loe nyariin siapa si Vi?” tanya Fandy salah satu temannya.
“Iya, loe tau kan ruang musik masih berada jauh di sudut lorong sana. Tapi kenapa loe tetep nengok kesana kemari seolah baru pertama kalinya loe kesini,” Bagas temannya yang lain menambahkan.
“Kalian berdua diem aja deh, gue lagi mantau seseorang nie...,”
“Siapa....,”
“Shiiiittttssss......,” ucap Alvi sembari meletakkan telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat pada kedua temannya untuk diam.
       Sosok yang dicarinya kini berada sekitar beberapa meter dari tempatnya dan kedua temannya berdiri. Semula dia tak percaya bahwa gadis itulah yang di carinya. Tapi, ketika teman seorang gadis itu memanggil nama sang gadis barulah Alvi percaya akan apa yang dilihatnya.
“Bulshiitttt.... dia beda banget dengan yang ada di foto..,” ucapnya yang jelas membuat kedua rekannya terbelalak kaget karna tak mengerti apa yang dimaksud Alvi.
“Loe liatin sapa sih Vi,” Bagas penasaran melihat temannya itu terheran-heran melihat seseorang yang baru saja melesat pergi setelah beberapa detik berada dalam jangkauan pandangannya. Tak hanya Bagas, Fandy pun ikut nimbrung melototi gadis yang menyita perhatian Alvi sendari tadi. Dia pun bertanya pada sohibnya itu, tentang siapa gadis yang baru saja dilihatnya.

Prolog

Diposting oleh Khudaifa Sari di Oktober 24, 2019 0 komentar

Niken Graviola Bramasta
         “Aku tidak pernah menginginkan akan dapat merasakan cinta.Bagiku hidupku hanyalah untuk membalaskan dendam kematian seluruh keluargaku.Hingga akhirnya seseorang itu, seseorang yang pernah teramat dicintai adikku.Seseorang yang awalnya ku benci karena penghinaan yang diberikannya bertubi-tubi.Namun kemudian dia datang dengan cinta yang murni padaku.Lantas haruskah aku menerimanya?”
Alvi Zeonico Keysnandra
         “Satu hal yang paling aku benci di dunia ini adalah kebohongan. Aku dibohongi oleh seseorang yang sangat aku cintai hingga aku tak mau lagi mengenal apa yang namanya cinta. Namun kemudian, datang seseorang yang lain yang juga membawa banyak kebohongan dan rahasia yang tak ku tahu. Tapi, entah kenapa aku membenarkan dan mengecualikan bahwa semua kebohongannya adalah beralasan.Hingga aku bertekad untuk mencari tahu semua rahasia yang disembunyikannya dan mencari alasannya.Aku tak pernah peduli dengan yang lainnya sebelumnya, tapi wanita ini membuatku selalu merasa ingin tahu semua hal tentangnya. Ada apa denganku ?Apakah aku mulai merasakan adanya cinta itu lagi dihidupku?”
Irene Florencia Turano
         “Bagiku hidupku hanya untuk satu hal.Meraih impianku bagaimanapun caranya. Aku tak peduli cara apapun yang akan ku lalui. Yang jelas aku hanya akan menuju impianku agar mencapai kata sukses. Namun, kemudian aku merasa bahwa masih ada yang kurang dalam hidupku sekalipun aku telah mencapai puncak kesuksesan.Hingga aku sadar bahwa seseorang yang dulu pernah memperjuangkanku pergi dari sisiku karena kebohonganku.Lantas haruskah aku melepaskan impianku dan memintanya kembali padaku?”
Jacky Malik Rusdiantoro
         “Menjadi seseorang yang memegang kekuasaan tinggi adalah tujuan hidupku.Bisa memerintah orang-orang yang berada di bawahku adalah sebuah pencapaian terbesar dari hidupku.Terlebih membuat seseorang yang ku benci setengah mati berlutut di bawah kakiku.

Shymponi Of Secret

Diposting oleh Khudaifa Sari di Oktober 24, 2019 0 komentar


      Novel "Shymponi Of Secret " ini bercerita tentang rahasia-rahasia yang tersimpan dari sebuah keluarga. Dan perseteruan seputaran keluarga. Dalam cerita ini kamu akan di ajak bermain menebak teka-teki apa yang sebenarnya di hadapi oleh tokoh-tokoh dalam novel ini.
     Ada tangis, bahagia, sedih, tawa semua jadi satu dalam novel ini. Singkat saja pembukanya ya, soalnya cerita ini masih belum rampung, jadi nggak bisa menjelaskan detai ceritanya. hehehe...
    Ikuti saja cerita ini sampai selesai di tulis ya readers.... Enjoy to read it.... :D

Terima Kasih :)

Diposting oleh Khudaifa Sari di Oktober 24, 2019 0 komentar

         Terima kasih sudah membaca dan mengikuti cerita ini sampai selesai. Semoga bisa menghibur. Ayooo...tetap ikuti cerita-cerita saya yang lain ya.... muach... :3

Epilog

Diposting oleh Khudaifa Sari di Oktober 24, 2019 0 komentar

         Nendra membawa Reta ke suatu cafe yang di penuhi dengan cahaya lilin yang sangat indah di sepanjang jalan. Lampu berkilauan yang kelap kelip terpasang menghiasi tempat itu. Dan pohon-pohon di luar cafe itu juga tak kalai indahnya dengan lampu berkelap kelip itu juga. Reta yang mengenakan dress berwarna putih, sepatu flat putih tampak begitu cantik dengan rambut panjangnya yang ia biarkan tergerai sempurnah. Dia duduk di tempat yang sudah di pesankan oleh Nendra. Dan tanpa sadar Reta dan Nendra duduk di bagian tengah-tengah cafe dengan beberapa meja lainnya yang dipenuhi oleh orang-orang mengelilingi mejanya.
            “Sebenarnya ini acara apa sih Nen, kok kamu bawa aku ke tempat seperti ini?”tanya Reta yang tampak kikuk di antara banyaknya pengunjung itu, karena dia tidak terbiasa mengunjungi tempat-tempat yang terkesan romantis seperti ini.
            “Ini kejutan.....,” ucap Nendra yang kemudian perhatiannya teralihkan pada suara yang meminta perhatian semua pengunjung cafe yang datang.
            “Perhatian semuanya, kali ini kita akan di hibur oleh teman-teman kita yang sangat tampan disini. Dia akan menyanyikan satu buah lagu untuk seorang gadis yang sangat di cintainya. Untuk itulah, mohon perhatiannya dan jangan biarkan mata anda berkedip sedikitpun,” ucap pembawa acara dari atas panggung tempat biasanya band-band cafe beraksi menghibur para pengunjung.

Bab 16

Diposting oleh Khudaifa Sari di Oktober 24, 2019 0 komentar

Ada banyak alasan seseoramg membuat pilihannya
Dan janganlah pernah kamu menghakiminya
Sebelum kamu tahu apa alasan di balik setiap keputusannya
Agar kamu terhindar dari penyesalan yang tiada habisnya
~Zelvin~
Akhirnya Nendra pun menjelaskan semuanya pada Zelvin. Tentang Reta yang menerima ancaman dari Regina, tentang teror-teror yang Regina lakukan pada Reta, dan tentang kesalah pahaman hubungan diantara Nendra dan Reta, juga tentang alasan kenapa Reta harus mau melepaskan Zelvin untuk Regina.
            “Kalau dia beneran mencintai gue, harusnya dia nggak ninggalin gue dan membuat kesalah pahaman itu terjadi Nen...,”
            “Dia melakukan itu karena dia takut dengan ancaman Regina yang akan nyakitin loe kalau dia nggak ngelakuin apa yang Regina mau. Dia mempunyai tingkat kecemasan yang berlebihan Vin, dan itulah yang membuat dia akhirnya memutuskan untuk memilih langkah itu...,”
            “Psikosomatik. Dia memiliki tingakat kecemasan dan ketakutan yang berlebihan. Dan salah satu phobianya yang terparah adalah karena dia takut pada ular. Apa itu yang menyebakannya sampai tidak sadarkan diri?”
            “Iya, dia bercerita bahwa dia melihat ular di lokernya di kampus dan itulah yang ngebuat dia pingsan. Kau tahu aku sampai gila karena saking khawatirnya melihat dia tidak sadarkan diri selama dua hari,” tambah Nendra.
            “Nen, loe.....,” Zelvin merasa curiga dengan rasa khawatir Nendra terhadap Reta yang dianggapnya tidak wajar.

Bab 15

Diposting oleh Khudaifa Sari di Oktober 24, 2019 0 komentar

Aku nyaris gila karena rasa khawatir ini
Kamu tidak membuka matamu dan itu membuatku tercekam ketakutan
Hingga aku lupa bagaimana caranya untuk bernafas
Melihatmu terbaring lemah tak berdaya lebih menyakitiku
Daripada saat ku tahu bahwa tak akan ada lagi cintamu untukku
Dan bukan lagi aku yang bertahta di hatimu
~Nendra~
            Mentari mulai meninggi dan sinarnya masuk melalui celah-celah jendela kaca. Reta menyipitkan matanya karena silaunya dan mau tak mau akhirnya dia pun mulai membuka matanya. Dia merasakan ada tangan yang menggenggam tangannya. Dan didapatinya seorang lelaki yang tertidur dengan terduduk di bangku dan kepalanya bersandar di tempat tidurnya dengan tangan yang menggenggam tangannya. Lelaki itu terbangun karena gerakan kecil yang di buat oleh Reta.
            “Kamu sudah bangun?” tanya lelaki itu.
            “Nendra...kamu disini. Ini...dimana?” tanya Reta yang baru menyadari bahwa dia berada di tempat asing, dia baru tersadar bahwa dirinya tidak tertidur di kamar tidurnya di kosan.
            “Kamu di rumah sakit,” jawab Nendra seolah tahu apa yang dipikirkan gadis itu.
            “Kenapa..aku...bisa berada di sini?” tanya Reta yang tidak mengingat sama sekali kenapa dia bisa terbangun di sebuah kamar rumah sakit tanpa tahu apa yang terjadi padanya sebelumnya.
            “Kenapa kau tidak mengatakannya padaku Reta. Kau sahabatku dan kau tidak membiarkan aku tahu apa yang selama ini menganggumu?” Nendra balik bertanya.
            “Apa maksudmu Nen...?”
            “Kamu menderita penyakit psikosomatik. Kamu pingsan tiba-tiba dan dokter bilang itu mungkin disebabkan karena kamu memiliki kecemasan yang berlebihan,” jelas Nendra.
            “Oh, penyakit itu lagi yang membuat aku pingsan...,” ucap Reta sembari mencoba untuk duduk dari posisi berbaringnya.
            “Sejak kapan kamu menderita penyakit ini?” tanya Nendra kemudian.

Bab 14

Diposting oleh Khudaifa Sari di Oktober 24, 2019 0 komentar

Aku harus melepasmu
Bukan karena aku membencimu
Tapi karena aku sadar
Karena aku sadar bahwa aku telah jatuh cinta padamu
Karenanya aku tak ingin membuatmu menderita karenaku
~Reta~
            Reta sedang makan siang di kantin kampus bersama dengan Putri dan juga Ersa siang itu ketika tiba-tiba seorang cewek dengan pakaian seksi mendatanginya dengan dua teman ;aiinya. Reta terkejut bukan main ketika cewek tak dikenalnya itu berbicara padanya dengan nada sinisnya.
            “Jadi..loe yang namanya Reta…,” ucap cewek itu memulai pembicaraannya dengan Reta.
            “Ah…iya ada apa kamu nyari aku?” tanya Reta.
            “Gue nggak mau basa basi dan langsung saja pada intinya. Jauhi Zelvin…!!!”
            “Maksud kamu?”
            “Udah deh jangan berlagak bego.Gue ini pacarnya Zelvin. Jadi loe nggak usah deket-deket atau ngerayu cowok gue lagi…!!!”
            “Kamu apaan sih dating-dateng nyolot gitu,” ucap Ersa yang nggak suka nada bicara cewek itu pada Reta.
            “Loe diem aja, gue gak ada urusan sama loe..,” ucap Cewek yang bernama Regina itu pada Ersa.“Pokoknya gue peringatin loe buat ngejauh dari Zelvin.Kalau loe coba-coba loe bakal dapat balesan dari gue…,” kecam Regina sembari langsung bergegas pergi meninggalkan Reta, Putri dan Ersa.
*****

Bab 13

Diposting oleh Khudaifa Sari di Oktober 24, 2019 0 komentar

Aku gadis yang picik, yang mencintai sahabatku
Yang telah menjadi kekasih sahabatku sendiri juga
Ma’af karena aku mencintaimu tanpa seizinmu, Nendra..
~Reta~
            “Hey, Nen, Vin….,” sapa Awan.
            “Loe lama banget sih wan…?” tanya Nendra.
            “Loe tahu nggak kita udah nungguin loe satu jam lebih,” ujar Zelvin.
            “Iya, sorry, sorry, gue sedikit kesulitan nyari nie café,”
            “Heh..bukannya loe udah sering keliling ya. Kok sampai kesulitan?” ujar Zelvin ketus.
            “Yeah, sorry lah Vin. Tadi gue juga lagi bantuin cewek yang nggak sengaja gue tabrak tahu..,”
            “Tuh kan ujung-ujungnya kalau loe terlambat pasti karena cewek,” tukas Zelvin.
            “Yee..nggak gitu juga kali. Tadi memang bener-bener nggak sengaja.Loe tahu nggak siapa cewek yang gue tabrak?”
            “Bego loe. Emangnya kita tahu, kan loe nya yang nabrak..,”
            “Iya sih..hehe..,” ucap Awan. “Tadi tuh yang gue tabrak Reta.Loe tahukan Margareta Auristella Lisham, temen SD kita dulu yang pipinya tembem dan wajahnya kucel abis itu.Kalian tahu nggak duile sekarang dia jadi cantik banget. Gue sampek nggak ngenalin dia dengan dress birunya dan jepit kecil yang menyibak poninya ke samping. Dan dengan sepatu flat putihnya itu. Wah..dia bener-bener cantik banget meskipun jauh dari kata seksi. Tapi dia cukup okelah…,” jelas Awan panjang lebar sembari mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat dia bertemu Reta.
            Nendra dan Zelvin hanya diam melihat temennya yang sangat asyik menceritakan pertemuannya dengan Reta setelah 8 tahun tidak bertemu.Melihat kedua temannya tidak berekasi apa-apa dia angkat bicara lagi.

Bab 12

Diposting oleh Khudaifa Sari di Oktober 24, 2019 0 komentar

Aku bertemu satu persatu dari mereka lagi
Seseorang di masa laluku
~Reta~
            Zelvin nyesel banget telah ngebuat janji terlebih dahulu dengan dua sahabatnya tadi malam. Kalau tidak dia pasti sudah jalan dengan Reta hari ini meskipun mereka nggak akan jalan berdua saja karena ada Ersa dan Putri yang akan bersama mereka. Tapi, semua keinginan itupun pupus karena dia sudah buat janji untuk menghabiskan waktu dengan dua sahabatnya itu.
            Zelvin sudah sampai di café tempat mereka janjian.Dia langsung berjalan kearah tempat duduk yang di pesan Nendra ketika sahabatnya itu melambaikan tangan untuk member isyarat padanya.
            “Loe udah lama Nen?”
            “Nggak kok, gue baru nyampai 10 menit yang lalu,”
            “Ngomong-ngomong si Awan belum dating?”
            “Belum loe tahu sendirikan dia sering banget ngaret,”
            “Ya, loe bener. Kita tungguin aja,”
*****

Bab 11

Diposting oleh Khudaifa Sari di Oktober 24, 2019 0 komentar


Ma’af, aku harus jujur padamu
Tapi bagiku ini lebih baik
Daripada kau harus mendapatkan kebohonganku
Dan mendengar kebenarannya dari orang lain
Ma’af aku menyakitimu lagi
~Reta~
            Zelvin terbangun setelah mendengar hujan turun.Dia tidak sadar bahwa sejak dari tadi dia terlelap di sofa.Dia langsung meraba sakunya untuk mencari HP nya.Siapa tahu Reta menelponnya, pikirnya dalam hati. Tapi, ketika dilihatnya HP itu tetap sama seperti semula, ia kembali murung.
            “Loe kenapa lagi? Cepet mandi sono udah sore, dari tadi loe tiduran aja,”
            “Nggak ada, dia nggak nelpon gue..,”
            “Siapa?”
            “Ya siapa lagi kalau bukan Reta,”
            “Udah tunggu aja. Itu karma buat loe, dulu loe sering banget buat cewek loe nunggu kan. Jadi sekarang giliran loe yang nunggu,”
            “Tapi kalau dia nggak nelpon?Apa dia marah karena kejadian kemaren ya..,”
            “Udah loe nyantai aja. Kalau dia emang marah sama loe, pastinya dia ngehindar dari loe dong saat loe mau ngelakuin itu. Kalau marahnya sekarang ya telat,”
            “Ya, loe bener. Atau karena dia malu ketemu aku ya…?”
            “Jangan kebanyakan mikir.Cepet pergi mandi sono.Sedari tadi kerjaan loe tiduran mulu,” ucap Nico sembari mendorong Zelvin untuk segera pergi dari sofa.
            “Emm…mungkin gadis itu beda dari gadis loe sebelumnya Vin. Dia itu lugu banget.Loe sih langsung nyamber aja, gak mikirin perasaannya,” celetuk Reyhan.
            “Loe bener, tadinya gue udah berusaha nahan diri.Tapi, karena terlalu merindukannya gue jadi gak tahan lagi,” desah Zelvin sembari meninggalkan kedua sahabatnya yang tengah asyik menikmati kopi hangatnya dan menonton pertandingan sepak bola di TV.
*****

Bab 10

Diposting oleh Khudaifa Sari di Oktober 24, 2019 0 komentar

Kenapa kau menghilang tanpa kabar
Kau tahu betapa khawatirnya aku menunggumu?
Aku seperti orang gila
~Zelvin~
            Zelvin datang ke tempat kos Reta tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Dia bertanya kepada Mbak Santi teman satu kos Reta yang kebetulan sedang menyapu lantai depan rumah.
            “Eh, mbak Santi.Reta nya ada?”
            “Oh, kamu Vin. Loh tadi Reta pergi. Ku pikir dia pergi sama kamu,”
            “Enggak tuh mbak. Aku datang ke sini malah gak beritahu dia. Mau bikin surprise gitu,”
            “Em..kamu tuh emang tiap hari bikin surprise terus. Tiba-tiba datang gak di undang dan pulang pun begitu juga,” ledek Mbak Santi.
            “Hehehe…,”Zelvin hanya nyengir mendengar ledekan Mbak Santi.Memang Reta nggak ngomong mau kemana ya mbak?”
            “Wahh..enggak tuh Vin. Coba kamu telpon aja. Dia tadi pergi buru-buru soalnya,”
            “Ah..iya baiklah mbak. Kalau begitu aku permisi dulu ya mbak..,”
            “Iya,” sahut Mbak Santi.
            Zelvin kecewa mendapati Reta tidak ada di rumah kos nya. Dia berulang kali mencoba menghubungi HP nya tapi nggak aktif.Dia jadi takut terjadi apa-apa dengan gadis itu karena nggak biasanya gadis itu seperti itu.
*****

Bab 9

Diposting oleh Khudaifa Sari di Oktober 24, 2019 0 komentar

Aku tidak tahu kapan rasa itu benar-benar sirnah
Bahkan hingga saat ini, saat melihat wajahmu rapuh
Ada sedih yang terendap dalam hatiku
Dan ada harap yang kusimpan bahwa pelukku akan mampu membuatmu kembali
Kembali menjadi ceria seolah tak pernah merasa sakit sedikitpun
~Reta~
            Zelvin sedang berdua dengan Nico ketika yang lainnya balik ke kamarnya masing-masing.Dan Nico mulai menginterogasi Zelvin, dan itulah yang sering dia lakukan jika sudah penasaran.
            “Loe, bukan pertama kalinya kan ciuman? Tapi kok loe seneng banget,”
            Zelvin melihat sahabatnya dengan tersenyum.“Ini bukan pertama kalinya dan loe juga pernah nyium dia sebelumnya.Tapi kenapa kali ini loe sangat berbeda. Jangan berlebihan bro, loe jadi buat semua orang iri sama loe. Apa sih yang ngebuat loe begitu seneng hari ini?”
            “Loe tuh Nic, gak seneng apa liat temen loe bahagia,”
            “Bukan gitu maksud gue.Tapi loe emang berlebihan senengnya. Emang rasanya kayak gimana sih? Apa bedanya dengan ciuman loe dengan pacar-pacar loe dulu?”
            “Yang ini jauh lebih manis dari yang sudah-sudah,” ucap Zelvin sembari meninggalkan sahabatnya yang masih penasaran itu.
            “Kenapa? Karena ciuman yang ini lebih manis?” Nico kembali berseru penasaran.
            “Karena dia Reta, Margareta Auristella Lisham,” Jelas Zelvin setengah berteriak.
            “Apa bedanya?”
            “Loe harus jatuh cinta dulu agar loe tahu.Dan loe juga harus pernah patah hati dulu agar loe semakin tahu bahwa loe bener-bener mencintainya,” seru Zelvin.
            “Maksud loe?Gue nggak ngerti,” Nico berteriak.
            Tapi Zelvin tak menjawab pertanyaan terakhir itu.Dia ingin sendiri dan mengingat kejadian-kejadian tadi saat dia bersama Reta.Saat bibir mereka bertemu dan saat kehangatan menyentuh mereka.Zelvin tidak bisa melupakan itu.Bahkan sampai sekarang dia masih merasakan kehangatan itu.
*****

Kamis, 24 Oktober 2019

Sebelas


Panti Asuhan Nirmala”
       Enam bulan setelah kejadian itu, kejadian dimana Alvi mengetahui kebenaran tentang identitas dirinya, akhirnya Alvi berada di sini sekarang. Tempat dimana ia pernah di pungut oleh Dana dan kemudian menjadi anak dari lelaki paruh baya itu. Setelah semua keraguan yang ia rasa hilang, akhirnya ia melakukan hal sebagaimana dikatakan oleh gadis itu. “Ikuti kata hatimu”, dan itulah yang Alvi lakukan sekarang. Ia akan mencari tahu siapa orang tua kandungnya, meskipun ia tidak bisa menemuinya lagi di dunia ini, tapi paling tidak Alvi tahu nama dan rupa dari orang tuanya meski hanya melalui sebuah foto lama yang mungkin masih disimpan oleh Ibu Panti.
       Alvi melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam panti. Di dalam sana terdapat halaman yang luas dan anak-anak kecil yang berlarian kesana-kemari. Mereka tampak sangat bahagia, seolah tak ada beban apapun di wajah ceria mereka.Ada yang bermain ayunan, jungkat jungkit dan bahkan ada yang jahil dengan mengusili teman-temannya.Alvi semakin melangkahkan kakinya untuk maju mencari ruangan Ibu Panti. Namun, anak-anak kecil disekitarnya yang menyadari bahwa ada seseorang asing yang datang memperhatikannya dengan raut wajah imut mereka. Hingga kemudian mereka semua pun berteriak, meneriakkan satu nama.
       “Kak Alvviiiiiiiiiii…………..,” ujar anak-anak polos itu.
       Alvi yang terkejut mendengar namanya di panggil secara serempak oleh anak-anak di panti itu, mengerutkan keningnya.Ia tak mengerti, kenapa anak-anak yang tidak pernah ditemuinya itu memanggil namanya. Dan bahkan anak-anak itu berlarian mengerumuninya, seolah sudah sangat akrab dengannya.
       “Akhirnya loe datang juga……,” ujar seorang gadis.
       “Loe…..?” ucap Alvi dengan tatapan penuh tanya kepada gadis itu. Namun, gadis itu tak memberikan jawaban apapun atas isyarat pertanyaannya itu.Ia hanya mengedikkan bahu dan kemudian tersenyum sembari mengajak ia dan anak-anak yang lain masuk ke dalam rumah.
       Alvi menyalami Ibu-Ibu Panti yang menyambut kedatangannya. Ibu Panti yang tahu akan maksud kedatangan Alvi, mempersilakan Alvi untuk masuk ke ruang kerjanya sementara anak-anak panti yang semula mengikutinya bermain bersama dengan gadis yang tadi mengajak mereka masuk ke dalam rumah.
*****

Sepuluh


          Beberapa bulan ini Alvi sibuk mengurusi semua masalah perusahaan keluarga Dana. Ia bahkan sampai lupa makan maupun istirahat. Hari-harinya hanya dihabiskan untuk menyelesaikan kuliahnya dan mengurusi perusahaan. Alvi tidak lagi sempat untuk bermain-main lagi sepreti dulu, ia tidak lagi menyusup untuk kabur dari bodyguard-bodyguardnya hanya untuk bisa menghabiskan waktu bersama dengan kedua sahabatnya Fandy dan Bagas. Dan kini, seperti biasa meskipun sudah pulang dari kantor, Alvi masih berada di depan meja kerja Papanya di rumah. Ia menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum selesai. Dana yang melihat antusiasme Alvi untuk menggantikannya mengurus perusahaan pun senang, terlebih kini ia bisa lebih fokus dengan kesembuhan Ratih, istrinya.
         Namun, melihat Alvi yang terlalu keras bekerja ia pun merasa cemas. Walau bagaimanapun meskipun tidak ada hubungan darah diantara mereka Dana sangat menyayangi Alvi seperti anaknya sendiri. Dan kini, putranya itu tengah salah paham terhadapnya, tidak hanya putranya tapi juga putri kandungnya yang tinggal satu-satunya. Dana tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kebenaran yang ada. Ia terlalu melukai kedua anak kesayangannya itu, dan apakah mungkin mereka percaya dengan semua penjelasannya nanti? Tapi, ia memutuskan untuk melakukan tindakan yang benar kali ini, ia akan menjelaskan semua yang terjadi kepada putranya itu lebih dulu, terlepas dari percaya atau tidaknya putranya itu kepadanya.
         “Vi...,” ucap Dana.
         Alvi yang mendengar seseorang memanggilnya pun mengalihkan pandangannya dari leptop di hadapannya ke arah seseorang yang memanggilnya itu yang tidak lain adalah Dana, Papanya. Alvi masih menyimpan rasa marah pada lelaki separuh baya itu, tapi ia juga tidak bisa membencinya. Walau bagaimanapun lelaki itu adalah orang tuanya yang membesarkannya sedari kecil dan memberikan kasih sayangnya, meski kerap kali ia terlalu keras dalam mendidik dirinya. Bagi Alvi, Dana tetap orang tuanya meskipun tidak ada hubungan darah diantara keduanya.
         “Iya,,,” ucap Alvi.

Sembilan


        Matahari mulai meninggi dan cahayanya membuat Niken harus membuka matanya karena silaunya. Namun, ketika ia mulai terbangun ia merasakan ada sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya. Ketika ia mulai membuka matanya betapa ia terkejut bahwa wajahnya kini berada dalam jarak yang cukup dekat dengan Alvi. Ia yang kesadarannya kini telah kembali kemudian menendang tubuh lelaki itu.
       “Arrgghhhh…..,” teriak Niken.
       Alvi yang mendapat dorongan dan mendengar teriakan Niken pun segera bangun dari posisi jatuhnya.
       “Ada apaan sih Ken….?” Tanya Alvi dengan setengah kesadaran.
       “Loe..ngapain peluk-peluk gue….,”
       “Oh itu….,” ucap Alvi singkat tanpa member penjelasan dan kemudian ia kembali ke tempat tidur untuk tidur kembali. Namun, Niken mengguncang tubuhnya.
       “Eh..malah tidur lagi. Beri penjelasan kenapa gue bisa tidur di pelukan loe…?” ucap Niken.
       “Ish…loe tuh ya.Gak ada penjelasan, gue cuman pingin meluk loe itu aja, titik.Dan sekarang biarkan gue tidur lagi,” ucap Alvi.
       “Ihhh…dasar yaloe, kemarin loe udah nyuri ciuman gue dan sekarang loe tidur meluk-meluk gue.Apa jangan-jangan ada yang salah dengan otak loe ya Vi karena masalah ini?” duga Niken.
       “Astaga Niken, gue mau tidur lagi loe jangan ganggu gue dengan pikiran aneh loe itu. Lagian loe itu kan udah jadi istri gue, jadi wajar kan kalau gue ngelakuin itu. Untung aja gue cuman ngelakuin itu dan nggak minta hak gue sebagai suami ke loe…,” seru Alvi.
       Niken yang sadar akan kebenaran perkataan Alvi pun manggut-manggut. Tapi setelah ia mendengar hak Alvi sebagai suami ia malu dan segera berlari menuju kamar mandi, karena dia takut bahwa lelaki itu akan beneran meminta hak nya pada dirinya. Selepas kepergian Niken, Alvi hanya senyum-senyum sendiri melihat wajah Niken yang memerah karena perkataannya.Ia kini memiliki senjata ampuh untuk menghadapi gadis itu agar tidak merecoki dirinya.
*****

Delapan


         Keheningan terjadi di antara keduanya.Mereka duduk berdua dengan arah pandang menatap tepi pantai.Botol-botol, minuman kaleng sudah banyak yang kosong, karena keduanya hanya asyik minum dan berkelana dengan pikirannya masing-masing.Hingga akhirnya Alvi angkat bicara untuk memecah keheningan itu.
         “Ceritakan ke gue semua kebenarannya tanpa terkecuali…,” ucap Alvi.
         Niken menatap wajah lelaki yang duduk di sampingnya  itu. Lelaki itu bertanya tanpa memandang ke arahnya.Dan Niken pun tahu, bahwa lelaki itu mungkin masih memendam amarahnya.Dan akhirnya detik berikutnya dia pun mulai menceritakan semua hal pada Alvi.
         “Gue sebenarnya gak tahu harus memulai cerita ini dari mana.Karena cerita ini sungguh sangat rumit dan dulu aku menghabiskan begitu banyak waktuku hanya untuk mencari benang merah dari semua permasalahan ini,” ucap Niken sebagai pembuka ceritanya.
         “Semua ini berawal dari cerita lama dimana kakek, nenek loe dan kakek nenek gue adalah bersahabat.Dan benar adanya memang tentang perjodohan di antara keluarga kita.Tapi, dulu yang di jodohkan adalah Tante Selvi dengan Papa Dana. Papa sangat mencintai Tante Selvi, tapi tidak dengan Tante Selvi, dia mencintai lelaki lain. Hingga akhirnya Tante Selvi memilih pergi meninggalkan Papa Dana dan menikah dengan Om Bram, sementara Papa Dana akhirnya menikah dengan Mama Ratih,” jelas Niken.

Tujuh


       Hingga hari mulai malam Niken masih menceritakan apa yang ingin di ketahui oleh Alvi. Dan Alvi pun masih setia mendengarkan cerita Niken.
       “Orang tua gue adalah salah satu artis terkenal di perusahaan bokap loe.Papa gue seorang composer lagu “Bramasta Prasetyo”, dan ibu gue adalah pemain biola terkenal “Selvi Gracella Moudy”. Loe pernah dengar kan?” tanya Niken yang langsung di jawabi anggukan oleh Alvi. Menurut kabar yang beredar orang tua gue meninggal karena kecelakaan.Tapi sebenarnya mereka meninggal bukan karena itu. Mereka meninggal karena di bunuh…,”
       Alvi terkejut mendengar penuturan Niken.
       “Kenapa loe berpikiran seperti itu?” tanya Alvi.
       “Gue tahu, dari pesan-pesan yang dikirimkan oleh saudara kembar gue. Saudara gue sering ngirim fax ke gue waktu gue di LA dan menceritakan semua yang terjadi di sini termasuk dengan terror dan ancaman-ancaman yang di terima oleh beberapa orang yang membenci orang tua gue..,”
       “Tapi, bagaimana mungkin mereka bisa tidak tahu kalau loe juga anak mereka? Bukankah fax-fax yang di kirimkan saudara loe ke loe bisa melacak keberadaan loe?” tanya Alvi dengan kening berkerutnya pertanda dia sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada gadis yang kini berada di hadapannya itu.

Enam


          Pesta belum usai dan Alvi berjalan keluar dari ballroom hotel setelah mendapat telfon dari seseorang di seberang sana. Dia segera bergegas menemui seseorang yang tengah menelfonnya itu.Alvi memarkirkan mobilnya di sebuah café dan seseorang melambaikan tangannya ketika Alvi tengah masuk café itu.
       “Oh, Vin…sorry gue agak lama,” ucap seseorang yang bernama Calvin itu.
       “Iya, gue maklum. Loe kan pengantin baru, hehe… Sorry gue tadi gak sempet dateng,”
       “Ya, gak masalah…,”
       “Tadinya gue pikir besok aja gue mau ngasih tahu loe karena hari ini adalah hari pernikahan loe, dan rasanya gak etis banget kalau gue harus menculik pengantin prianya. Tapi, masalahnya gue gak bisa lama-lama karena malemini jugague harus terbang ke Canada,”
       “Ya, gak masalah. Ngomong-ngomong info apa yang loe dapet tentang gadis itu?” tanya Alvi pada Calvin.
       Calvin menyerahkan sebuah dokumen yang agak tebal kepada Alvi.Dan Alvi membaca satu per satu halaman dokumen itu. Dan dia begitu terkejut ketika melihat isi di halaman ke lima dokumen tersebut.
       “Ini……?”tanya Alvi.
       “Ya, itu informasi tentang istri loe yang sebenarnya,”
       “Apa data-data ini akurat?” tanya Alvi lagi seolah tak percaya dengan dokumen yang tengah di bacanya itu.
       “Ya, tentu saja. Loe tahu kan gue ini professional, jadi gue gak mungkin ngasih data ke loe yang gak bener tentang dia,”
       “Tapi…ini….?”
       “Ya, loe nggak percaya kan? Begitu pula dengan gue sebelumnya juga gak percaya Vi. Tapi, setelah gue cari informasi sampai ke LA gue baru mendapatkan kebenaran itu..,” jelas Calvin.
       Alvi masih diam tercenggang dengan dokumen ditangannya itu.Matanya terpaku membaca lembar demi lembar dokumen itu.Dan seolah tahu bahwa Alvi belum dapat menerima kebenaran dokumen itu, Calvin mulai angkat bicara.
       “Ma’af Vi, gue gak bisa lama-lama.Gue harus segera pergi,” ucap Calvin dan di jawabi anggukan oleh Alvi.
       Alvi melajukan mobilnya ke area tepi pantai.Di hirupnya udara di tepi pantai tersebut seraya mencari ketenangan.
       “Kenapa kamu berbohong Ken….?” Batin Alvi.
*****

Lima


           Alvi menunggu dengan bosan di ruang tunggu. Bajunya masih belum disiapkan oleh para perancang itu. Sementara itu, Niken mencoba baju pengantinnya lebih dulu dari Alvi. Ketika dia telah mencobanya dengan di dandani secara sederhana oleh para penata rias itu membuat Niken tampil beda dari biasanya. Dia terlihat begitu cantik meski dalam dandan sederhana. Baju pengantin berwarna putih itu indah sekali, dan membuat kecantikan yang sebenarnya di sembunyikannya lewat topeng ketomboyannya kini terpancar dengan jelas. Dan bahkan aura kecantikannya itu di akui sendiri oleh Alvi.
       Melihat Niken berdiri di hadapannya dengan gaun pengantin yang membalutnya membuat Alvi tercenggang tak percaya melihat mahluk cantik di hadapannya. Berkali-kali asisten perancang busana itu memanggilnya tapi tak di gubrisnya. Dia mungkin tak menyadari berapa kali dan lamanya asisten perancang itu berdiri di samping tempat duduknya dengan menenteng jas ditangannya sembari meneriakkan nama Alvi berkali-kali. Dia baru terlonjak kaget dan membuyarkan fokus matanya yang sendari tadi memandang Niken, ketika seseorang menendang kakinya. Rasa kesakitannya itu terlihat jelas ketika dia memegang kakinya dan merasakan kenyeriannya dengan mengeryitkan dahinya.
“Aw... Sakit tau...,”
“Habis, loe ngapain aja sih. Kasian tuh dari tadi megangin baju loe dan manggil-manggil nama loe dari tadi,” ucap Niken sembari menunjuk asisten perancang yang masih berdiri di samping Alvi.
“Oh, sorry... gue...,” ucapnya pada asisten itu.

Empat


    Berita tentang pernikahan Alvi dengan Niken sudah tersebar di seantero kampus. Dan tentu saja berita itu juga sampai ke telinga Irene. Irene berjalan mencari-cari dimana Alvi berada. Ditemuinya lelaki yang kini tengah menatap keluar jendela lantai tiga ruang kelasnya itu. Semua temannya seolah tahu apa yang akan terjadi kemudian dan mereka meninggalkan Alvi dan Irene berdua saja di dalam kelas.
“Ada apa loe kesini...?” tanyaAlvi.
“Ada apa? Loe bilang ada apa? Loe amnesia ya, atau loe pikir gue gadis bodoh yang bisa loe bohongin gitu aja...,” cercahnya.
“Oh, loe sudah tahu...,”
“Dengan gampangnya loe hanya ngomong hal itu ke gue? Gue butuh penjelasan dari loe...,”
“Penjelasan apa lagi yang loe butuhin. Bukannya loe udah tahu lebih dulu tentang hal ini sebelumnya. Dan gue juga sudah beritahu loe sejak awal kalau gue mau di jodohin,”
“Tapi.. loe apa gak bisa menolak keinginan kedua orang tua loe...,”
“Gue gak punya jalan lain. Bukannya loe sendiri yang nolak untuk nikah dengan gue? Jadi, selain menerima hal ini gue gak bisa lakuin apa-apa lagi...,”
“Jadi, sampai akhir loe akan tetap bertahan menjadi boneka kedua orang tua loe yang berpikiran kolot itu...?”
“Jangan pernah mengatai kedua orang tuaku ataupun menjelek-jelekkan keluargaku. Sekalipun aku membenci mereka, mereka tetap orang tua gue, tetap keluarga gue..,” ucap Alvi kali ini dengan nada meninggi.
“Loe... Loe udah berubah Vi...,”
“Gue? Berubah? Bukannya loe yang sudah berubah. Atau sejak awal memang itu sifat dan tujuan loe,” ucap Alvi pada Irene sembari meninggalkan gadis itu di dalam kelas.
       Irene mencoba mencerna perkataan terakhir Alvi karena dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh lelaki itu yang megatakan sifatnya berubah dan bahkan lelaki itu jua menyebutkan tujuannya yang sebenarnya. Dia berpikir sejenak dan menemukan sesuatu dalam pikirnya.
“Bulshitttt apa dia sudah tahu......,” desahnya.
*****

Tiga


    Niken menata semua barang-barangnya dalam kamarnya yang baru. Kamar itu memang cukup besar bahkan mungkin seluas lapangan sepak bola, tapi mengapa dia masih saja tak merasa nyaman di rumah itu. Bukan saja karena dirinya merasa asing dengan tempat itu, tapi karena dia membayangkan tekanan apa saja yang akan didapatkannya nanti setelah dia memutuskan untuk menyetujui usul tersebut. Dibukanya jendela kamarnya yang menghadap tepat kearah taman. Taman itu begitu indah, terdapat bunga mawar, anggrek, anyelir dan bunga-bunga lainnya yang tertata rapi di taman itu. Satu hal yang paling disukainya dari semua bunga-bunga itu adalah bunga lili. Dibukanya pintu kamarnya dan hendak di nikmatinya hamparan bunga lili di taman itu. Tapi, tiba-tiba seseorang menghentikan langkahnya sejenak karena mengajaknya berbicara.
“Loe, kok bisa ada disini..?”
“Emangnya kenapa kalau gue ada disini. Bukannya minggu depan kita udah harus bertunangan,”
“Kita? Mimpi loe. Gue gak pernah mau nyetujui usul tersebut. Jangan harap loe bisa bertunangan dengan gue. Jadi sekarang sebaiknya loe pergi dari sini..,” bentak Alvi sembari menarik tangan Niken untuk segera meninggalkan rumahnya.
       Namun, usahanya gagal karena kedatangan seseorang. Niken mengangguk menghormat ketika mendapati orang itu mendekat ke arah mereka berdua. Melihat siapa yang datang, sontak membuat Alvi bergegas untuk melepaskan cengkeraman tangannya dari pergelangan tangan Niken.
“Kenapa?Kamu mau ngusir dia..?” tanya papanya.
“Tapi pa... Aku gak pernah menyetujui pertunangan itu,”

Dua


     Rasa penasaran membuat Alvi dengan terpaksa harus nemuin gadis itu. Dia masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya dari oma dan ortunya, bahwa tuh gadis tak menolak perjodohan dengan dirinya. Bahkan tuh gadis secara gamlang menyetujui perjodohan itu dengan menyebutkan secarajelas alasan dari keputusannya itu. Yang anehnya lagi adalah oma dan papanya yang malah semakin mendukung acara perjodohan itu meskipun tahu maksud dari gadis itu hingga mau menerima perjodohan.
“Oma... memang benar-benar udah gila. Mana mungkin dia tetap melanjutkan perjodohan meskipun dia tahu bahwa gadis itu punya maksud yang tidak baik. Bagi gue oma gak masalah, tapi loe tahu papa gue malah ngedukung oma gue.. gila nggak sih...,” jelas Alvi pada kedua rekannya yang menemaninya mencari gadis yang di jodohkannya itu.
       Kedua temannya yang mendengar Alvi menggerutu tentang sikap oma dan papanya itu hanya manggut-manggut menyetujui semua perkataan Alvi tanpa bisa berkata apa-apa. Mereka tak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk mengeluarkan sohibnya itu dari masalah perjodohannya itu. Bagi mereka berdua, membantu Alvi dengan menentang kehendak oma dan papanya sama saja seperti menggali kuburan mereka sendiri. Bahkan lebih dari itu keluarga mereka pun  bisa kena imbasnya karena jika sedikit saja membuat papa Alvi tersinggung dalam hitungan detik, papa Alvi langsung bisa mengeluarkan kedua orang tua mereka dari kerja sama dengan perusahaan K-Company. Karena bisa dibilang baik perusahaan papa Fandy maupun perusahaan papa Bagas keduanya bisa berjalan dengan baik karena kerja sama dengan perusahaan K-Company yang digawangi oleh papa Alvi.
*****

Satu


    Alvi dan kedua kawannya tengah mengawasi fakultas seni budaya yang berada di samping fakultasnya. Kali ini tujuannya bukan untuk mencuri pandang ke arah kekasihnya yang biasanya berlatih di ruang musik. Tapi, tujuannya kali ini lain dari biasanya, dia seolah mencari sosok orang lain dan bukannya sosok Irene yang biasanya kerap di carinya. Kedua temannya yang semula mengerti tujuan Alvi mengamati fakultas seni budaya kini mereka kebingungan bukan main di buatnya.
“Loe nyariin siapa si Vi?” tanya Fandy salah satu temannya.
“Iya, loe tau kan ruang musik masih berada jauh di sudut lorong sana. Tapi kenapa loe tetep nengok kesana kemari seolah baru pertama kalinya loe kesini,” Bagas temannya yang lain menambahkan.
“Kalian berdua diem aja deh, gue lagi mantau seseorang nie...,”
“Siapa....,”
“Shiiiittttssss......,” ucap Alvi sembari meletakkan telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat pada kedua temannya untuk diam.
       Sosok yang dicarinya kini berada sekitar beberapa meter dari tempatnya dan kedua temannya berdiri. Semula dia tak percaya bahwa gadis itulah yang di carinya. Tapi, ketika teman seorang gadis itu memanggil nama sang gadis barulah Alvi percaya akan apa yang dilihatnya.
“Bulshiitttt.... dia beda banget dengan yang ada di foto..,” ucapnya yang jelas membuat kedua rekannya terbelalak kaget karna tak mengerti apa yang dimaksud Alvi.
“Loe liatin sapa sih Vi,” Bagas penasaran melihat temannya itu terheran-heran melihat seseorang yang baru saja melesat pergi setelah beberapa detik berada dalam jangkauan pandangannya. Tak hanya Bagas, Fandy pun ikut nimbrung melototi gadis yang menyita perhatian Alvi sendari tadi. Dia pun bertanya pada sohibnya itu, tentang siapa gadis yang baru saja dilihatnya.

Prolog


Niken Graviola Bramasta
         “Aku tidak pernah menginginkan akan dapat merasakan cinta.Bagiku hidupku hanyalah untuk membalaskan dendam kematian seluruh keluargaku.Hingga akhirnya seseorang itu, seseorang yang pernah teramat dicintai adikku.Seseorang yang awalnya ku benci karena penghinaan yang diberikannya bertubi-tubi.Namun kemudian dia datang dengan cinta yang murni padaku.Lantas haruskah aku menerimanya?”
Alvi Zeonico Keysnandra
         “Satu hal yang paling aku benci di dunia ini adalah kebohongan. Aku dibohongi oleh seseorang yang sangat aku cintai hingga aku tak mau lagi mengenal apa yang namanya cinta. Namun kemudian, datang seseorang yang lain yang juga membawa banyak kebohongan dan rahasia yang tak ku tahu. Tapi, entah kenapa aku membenarkan dan mengecualikan bahwa semua kebohongannya adalah beralasan.Hingga aku bertekad untuk mencari tahu semua rahasia yang disembunyikannya dan mencari alasannya.Aku tak pernah peduli dengan yang lainnya sebelumnya, tapi wanita ini membuatku selalu merasa ingin tahu semua hal tentangnya. Ada apa denganku ?Apakah aku mulai merasakan adanya cinta itu lagi dihidupku?”
Irene Florencia Turano
         “Bagiku hidupku hanya untuk satu hal.Meraih impianku bagaimanapun caranya. Aku tak peduli cara apapun yang akan ku lalui. Yang jelas aku hanya akan menuju impianku agar mencapai kata sukses. Namun, kemudian aku merasa bahwa masih ada yang kurang dalam hidupku sekalipun aku telah mencapai puncak kesuksesan.Hingga aku sadar bahwa seseorang yang dulu pernah memperjuangkanku pergi dari sisiku karena kebohonganku.Lantas haruskah aku melepaskan impianku dan memintanya kembali padaku?”
Jacky Malik Rusdiantoro
         “Menjadi seseorang yang memegang kekuasaan tinggi adalah tujuan hidupku.Bisa memerintah orang-orang yang berada di bawahku adalah sebuah pencapaian terbesar dari hidupku.Terlebih membuat seseorang yang ku benci setengah mati berlutut di bawah kakiku.

Shymponi Of Secret



      Novel "Shymponi Of Secret " ini bercerita tentang rahasia-rahasia yang tersimpan dari sebuah keluarga. Dan perseteruan seputaran keluarga. Dalam cerita ini kamu akan di ajak bermain menebak teka-teki apa yang sebenarnya di hadapi oleh tokoh-tokoh dalam novel ini.
     Ada tangis, bahagia, sedih, tawa semua jadi satu dalam novel ini. Singkat saja pembukanya ya, soalnya cerita ini masih belum rampung, jadi nggak bisa menjelaskan detai ceritanya. hehehe...
    Ikuti saja cerita ini sampai selesai di tulis ya readers.... Enjoy to read it.... :D

Terima Kasih :)


         Terima kasih sudah membaca dan mengikuti cerita ini sampai selesai. Semoga bisa menghibur. Ayooo...tetap ikuti cerita-cerita saya yang lain ya.... muach... :3

Epilog


         Nendra membawa Reta ke suatu cafe yang di penuhi dengan cahaya lilin yang sangat indah di sepanjang jalan. Lampu berkilauan yang kelap kelip terpasang menghiasi tempat itu. Dan pohon-pohon di luar cafe itu juga tak kalai indahnya dengan lampu berkelap kelip itu juga. Reta yang mengenakan dress berwarna putih, sepatu flat putih tampak begitu cantik dengan rambut panjangnya yang ia biarkan tergerai sempurnah. Dia duduk di tempat yang sudah di pesankan oleh Nendra. Dan tanpa sadar Reta dan Nendra duduk di bagian tengah-tengah cafe dengan beberapa meja lainnya yang dipenuhi oleh orang-orang mengelilingi mejanya.
            “Sebenarnya ini acara apa sih Nen, kok kamu bawa aku ke tempat seperti ini?”tanya Reta yang tampak kikuk di antara banyaknya pengunjung itu, karena dia tidak terbiasa mengunjungi tempat-tempat yang terkesan romantis seperti ini.
            “Ini kejutan.....,” ucap Nendra yang kemudian perhatiannya teralihkan pada suara yang meminta perhatian semua pengunjung cafe yang datang.
            “Perhatian semuanya, kali ini kita akan di hibur oleh teman-teman kita yang sangat tampan disini. Dia akan menyanyikan satu buah lagu untuk seorang gadis yang sangat di cintainya. Untuk itulah, mohon perhatiannya dan jangan biarkan mata anda berkedip sedikitpun,” ucap pembawa acara dari atas panggung tempat biasanya band-band cafe beraksi menghibur para pengunjung.

Bab 16


Ada banyak alasan seseoramg membuat pilihannya
Dan janganlah pernah kamu menghakiminya
Sebelum kamu tahu apa alasan di balik setiap keputusannya
Agar kamu terhindar dari penyesalan yang tiada habisnya
~Zelvin~
Akhirnya Nendra pun menjelaskan semuanya pada Zelvin. Tentang Reta yang menerima ancaman dari Regina, tentang teror-teror yang Regina lakukan pada Reta, dan tentang kesalah pahaman hubungan diantara Nendra dan Reta, juga tentang alasan kenapa Reta harus mau melepaskan Zelvin untuk Regina.
            “Kalau dia beneran mencintai gue, harusnya dia nggak ninggalin gue dan membuat kesalah pahaman itu terjadi Nen...,”
            “Dia melakukan itu karena dia takut dengan ancaman Regina yang akan nyakitin loe kalau dia nggak ngelakuin apa yang Regina mau. Dia mempunyai tingkat kecemasan yang berlebihan Vin, dan itulah yang membuat dia akhirnya memutuskan untuk memilih langkah itu...,”
            “Psikosomatik. Dia memiliki tingakat kecemasan dan ketakutan yang berlebihan. Dan salah satu phobianya yang terparah adalah karena dia takut pada ular. Apa itu yang menyebakannya sampai tidak sadarkan diri?”
            “Iya, dia bercerita bahwa dia melihat ular di lokernya di kampus dan itulah yang ngebuat dia pingsan. Kau tahu aku sampai gila karena saking khawatirnya melihat dia tidak sadarkan diri selama dua hari,” tambah Nendra.
            “Nen, loe.....,” Zelvin merasa curiga dengan rasa khawatir Nendra terhadap Reta yang dianggapnya tidak wajar.

Bab 15


Aku nyaris gila karena rasa khawatir ini
Kamu tidak membuka matamu dan itu membuatku tercekam ketakutan
Hingga aku lupa bagaimana caranya untuk bernafas
Melihatmu terbaring lemah tak berdaya lebih menyakitiku
Daripada saat ku tahu bahwa tak akan ada lagi cintamu untukku
Dan bukan lagi aku yang bertahta di hatimu
~Nendra~
            Mentari mulai meninggi dan sinarnya masuk melalui celah-celah jendela kaca. Reta menyipitkan matanya karena silaunya dan mau tak mau akhirnya dia pun mulai membuka matanya. Dia merasakan ada tangan yang menggenggam tangannya. Dan didapatinya seorang lelaki yang tertidur dengan terduduk di bangku dan kepalanya bersandar di tempat tidurnya dengan tangan yang menggenggam tangannya. Lelaki itu terbangun karena gerakan kecil yang di buat oleh Reta.
            “Kamu sudah bangun?” tanya lelaki itu.
            “Nendra...kamu disini. Ini...dimana?” tanya Reta yang baru menyadari bahwa dia berada di tempat asing, dia baru tersadar bahwa dirinya tidak tertidur di kamar tidurnya di kosan.
            “Kamu di rumah sakit,” jawab Nendra seolah tahu apa yang dipikirkan gadis itu.
            “Kenapa..aku...bisa berada di sini?” tanya Reta yang tidak mengingat sama sekali kenapa dia bisa terbangun di sebuah kamar rumah sakit tanpa tahu apa yang terjadi padanya sebelumnya.
            “Kenapa kau tidak mengatakannya padaku Reta. Kau sahabatku dan kau tidak membiarkan aku tahu apa yang selama ini menganggumu?” Nendra balik bertanya.
            “Apa maksudmu Nen...?”
            “Kamu menderita penyakit psikosomatik. Kamu pingsan tiba-tiba dan dokter bilang itu mungkin disebabkan karena kamu memiliki kecemasan yang berlebihan,” jelas Nendra.
            “Oh, penyakit itu lagi yang membuat aku pingsan...,” ucap Reta sembari mencoba untuk duduk dari posisi berbaringnya.
            “Sejak kapan kamu menderita penyakit ini?” tanya Nendra kemudian.

Bab 14


Aku harus melepasmu
Bukan karena aku membencimu
Tapi karena aku sadar
Karena aku sadar bahwa aku telah jatuh cinta padamu
Karenanya aku tak ingin membuatmu menderita karenaku
~Reta~
            Reta sedang makan siang di kantin kampus bersama dengan Putri dan juga Ersa siang itu ketika tiba-tiba seorang cewek dengan pakaian seksi mendatanginya dengan dua teman ;aiinya. Reta terkejut bukan main ketika cewek tak dikenalnya itu berbicara padanya dengan nada sinisnya.
            “Jadi..loe yang namanya Reta…,” ucap cewek itu memulai pembicaraannya dengan Reta.
            “Ah…iya ada apa kamu nyari aku?” tanya Reta.
            “Gue nggak mau basa basi dan langsung saja pada intinya. Jauhi Zelvin…!!!”
            “Maksud kamu?”
            “Udah deh jangan berlagak bego.Gue ini pacarnya Zelvin. Jadi loe nggak usah deket-deket atau ngerayu cowok gue lagi…!!!”
            “Kamu apaan sih dating-dateng nyolot gitu,” ucap Ersa yang nggak suka nada bicara cewek itu pada Reta.
            “Loe diem aja, gue gak ada urusan sama loe..,” ucap Cewek yang bernama Regina itu pada Ersa.“Pokoknya gue peringatin loe buat ngejauh dari Zelvin.Kalau loe coba-coba loe bakal dapat balesan dari gue…,” kecam Regina sembari langsung bergegas pergi meninggalkan Reta, Putri dan Ersa.
*****

Bab 13


Aku gadis yang picik, yang mencintai sahabatku
Yang telah menjadi kekasih sahabatku sendiri juga
Ma’af karena aku mencintaimu tanpa seizinmu, Nendra..
~Reta~
            “Hey, Nen, Vin….,” sapa Awan.
            “Loe lama banget sih wan…?” tanya Nendra.
            “Loe tahu nggak kita udah nungguin loe satu jam lebih,” ujar Zelvin.
            “Iya, sorry, sorry, gue sedikit kesulitan nyari nie café,”
            “Heh..bukannya loe udah sering keliling ya. Kok sampai kesulitan?” ujar Zelvin ketus.
            “Yeah, sorry lah Vin. Tadi gue juga lagi bantuin cewek yang nggak sengaja gue tabrak tahu..,”
            “Tuh kan ujung-ujungnya kalau loe terlambat pasti karena cewek,” tukas Zelvin.
            “Yee..nggak gitu juga kali. Tadi memang bener-bener nggak sengaja.Loe tahu nggak siapa cewek yang gue tabrak?”
            “Bego loe. Emangnya kita tahu, kan loe nya yang nabrak..,”
            “Iya sih..hehe..,” ucap Awan. “Tadi tuh yang gue tabrak Reta.Loe tahukan Margareta Auristella Lisham, temen SD kita dulu yang pipinya tembem dan wajahnya kucel abis itu.Kalian tahu nggak duile sekarang dia jadi cantik banget. Gue sampek nggak ngenalin dia dengan dress birunya dan jepit kecil yang menyibak poninya ke samping. Dan dengan sepatu flat putihnya itu. Wah..dia bener-bener cantik banget meskipun jauh dari kata seksi. Tapi dia cukup okelah…,” jelas Awan panjang lebar sembari mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat dia bertemu Reta.
            Nendra dan Zelvin hanya diam melihat temennya yang sangat asyik menceritakan pertemuannya dengan Reta setelah 8 tahun tidak bertemu.Melihat kedua temannya tidak berekasi apa-apa dia angkat bicara lagi.

Bab 12


Aku bertemu satu persatu dari mereka lagi
Seseorang di masa laluku
~Reta~
            Zelvin nyesel banget telah ngebuat janji terlebih dahulu dengan dua sahabatnya tadi malam. Kalau tidak dia pasti sudah jalan dengan Reta hari ini meskipun mereka nggak akan jalan berdua saja karena ada Ersa dan Putri yang akan bersama mereka. Tapi, semua keinginan itupun pupus karena dia sudah buat janji untuk menghabiskan waktu dengan dua sahabatnya itu.
            Zelvin sudah sampai di café tempat mereka janjian.Dia langsung berjalan kearah tempat duduk yang di pesan Nendra ketika sahabatnya itu melambaikan tangan untuk member isyarat padanya.
            “Loe udah lama Nen?”
            “Nggak kok, gue baru nyampai 10 menit yang lalu,”
            “Ngomong-ngomong si Awan belum dating?”
            “Belum loe tahu sendirikan dia sering banget ngaret,”
            “Ya, loe bener. Kita tungguin aja,”
*****

Bab 11



Ma’af, aku harus jujur padamu
Tapi bagiku ini lebih baik
Daripada kau harus mendapatkan kebohonganku
Dan mendengar kebenarannya dari orang lain
Ma’af aku menyakitimu lagi
~Reta~
            Zelvin terbangun setelah mendengar hujan turun.Dia tidak sadar bahwa sejak dari tadi dia terlelap di sofa.Dia langsung meraba sakunya untuk mencari HP nya.Siapa tahu Reta menelponnya, pikirnya dalam hati. Tapi, ketika dilihatnya HP itu tetap sama seperti semula, ia kembali murung.
            “Loe kenapa lagi? Cepet mandi sono udah sore, dari tadi loe tiduran aja,”
            “Nggak ada, dia nggak nelpon gue..,”
            “Siapa?”
            “Ya siapa lagi kalau bukan Reta,”
            “Udah tunggu aja. Itu karma buat loe, dulu loe sering banget buat cewek loe nunggu kan. Jadi sekarang giliran loe yang nunggu,”
            “Tapi kalau dia nggak nelpon?Apa dia marah karena kejadian kemaren ya..,”
            “Udah loe nyantai aja. Kalau dia emang marah sama loe, pastinya dia ngehindar dari loe dong saat loe mau ngelakuin itu. Kalau marahnya sekarang ya telat,”
            “Ya, loe bener. Atau karena dia malu ketemu aku ya…?”
            “Jangan kebanyakan mikir.Cepet pergi mandi sono.Sedari tadi kerjaan loe tiduran mulu,” ucap Nico sembari mendorong Zelvin untuk segera pergi dari sofa.
            “Emm…mungkin gadis itu beda dari gadis loe sebelumnya Vin. Dia itu lugu banget.Loe sih langsung nyamber aja, gak mikirin perasaannya,” celetuk Reyhan.
            “Loe bener, tadinya gue udah berusaha nahan diri.Tapi, karena terlalu merindukannya gue jadi gak tahan lagi,” desah Zelvin sembari meninggalkan kedua sahabatnya yang tengah asyik menikmati kopi hangatnya dan menonton pertandingan sepak bola di TV.
*****

Bab 10


Kenapa kau menghilang tanpa kabar
Kau tahu betapa khawatirnya aku menunggumu?
Aku seperti orang gila
~Zelvin~
            Zelvin datang ke tempat kos Reta tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Dia bertanya kepada Mbak Santi teman satu kos Reta yang kebetulan sedang menyapu lantai depan rumah.
            “Eh, mbak Santi.Reta nya ada?”
            “Oh, kamu Vin. Loh tadi Reta pergi. Ku pikir dia pergi sama kamu,”
            “Enggak tuh mbak. Aku datang ke sini malah gak beritahu dia. Mau bikin surprise gitu,”
            “Em..kamu tuh emang tiap hari bikin surprise terus. Tiba-tiba datang gak di undang dan pulang pun begitu juga,” ledek Mbak Santi.
            “Hehehe…,”Zelvin hanya nyengir mendengar ledekan Mbak Santi.Memang Reta nggak ngomong mau kemana ya mbak?”
            “Wahh..enggak tuh Vin. Coba kamu telpon aja. Dia tadi pergi buru-buru soalnya,”
            “Ah..iya baiklah mbak. Kalau begitu aku permisi dulu ya mbak..,”
            “Iya,” sahut Mbak Santi.
            Zelvin kecewa mendapati Reta tidak ada di rumah kos nya. Dia berulang kali mencoba menghubungi HP nya tapi nggak aktif.Dia jadi takut terjadi apa-apa dengan gadis itu karena nggak biasanya gadis itu seperti itu.
*****

Bab 9


Aku tidak tahu kapan rasa itu benar-benar sirnah
Bahkan hingga saat ini, saat melihat wajahmu rapuh
Ada sedih yang terendap dalam hatiku
Dan ada harap yang kusimpan bahwa pelukku akan mampu membuatmu kembali
Kembali menjadi ceria seolah tak pernah merasa sakit sedikitpun
~Reta~
            Zelvin sedang berdua dengan Nico ketika yang lainnya balik ke kamarnya masing-masing.Dan Nico mulai menginterogasi Zelvin, dan itulah yang sering dia lakukan jika sudah penasaran.
            “Loe, bukan pertama kalinya kan ciuman? Tapi kok loe seneng banget,”
            Zelvin melihat sahabatnya dengan tersenyum.“Ini bukan pertama kalinya dan loe juga pernah nyium dia sebelumnya.Tapi kenapa kali ini loe sangat berbeda. Jangan berlebihan bro, loe jadi buat semua orang iri sama loe. Apa sih yang ngebuat loe begitu seneng hari ini?”
            “Loe tuh Nic, gak seneng apa liat temen loe bahagia,”
            “Bukan gitu maksud gue.Tapi loe emang berlebihan senengnya. Emang rasanya kayak gimana sih? Apa bedanya dengan ciuman loe dengan pacar-pacar loe dulu?”
            “Yang ini jauh lebih manis dari yang sudah-sudah,” ucap Zelvin sembari meninggalkan sahabatnya yang masih penasaran itu.
            “Kenapa? Karena ciuman yang ini lebih manis?” Nico kembali berseru penasaran.
            “Karena dia Reta, Margareta Auristella Lisham,” Jelas Zelvin setengah berteriak.
            “Apa bedanya?”
            “Loe harus jatuh cinta dulu agar loe tahu.Dan loe juga harus pernah patah hati dulu agar loe semakin tahu bahwa loe bener-bener mencintainya,” seru Zelvin.
            “Maksud loe?Gue nggak ngerti,” Nico berteriak.
            Tapi Zelvin tak menjawab pertanyaan terakhir itu.Dia ingin sendiri dan mengingat kejadian-kejadian tadi saat dia bersama Reta.Saat bibir mereka bertemu dan saat kehangatan menyentuh mereka.Zelvin tidak bisa melupakan itu.Bahkan sampai sekarang dia masih merasakan kehangatan itu.
*****
 

Erifa's Story Copyright © 2009 Girl Music is Designed by Ipietoon Sponsored by Emocutez